Gastronomi Makna Makanan Khas Karo ‘Terites’ Secara Sosiologis

indra ketaren 1

Terites siap saji

Terites siap saji

Oleh: Indra Ketaren

Kosep Makanan

Kebutuhan manusia akan makan dan minum merupakan keharusan untuk melangsungkan kehidupan. Namun ketika ditinjau secara mendalam kebutuhan makan bukan hanya tuntutan biologis semata namun ada faktor lain yang mendorong terwujudnya suatu makanan dan minuman. Setiap manusia normal akan menentukan bahan-bahan makanan terutama yang tersedia di lingkungan fisiknya guna dikonsumsi. Konsep makanan dan minuman tersebut sudah ada pada pikiran masing-masing orang karena merupakan bagian dari budaya secara turun menurun atau disebut juga sebagai budaya ritual.

Makanan Suku Karo

Pada Suku Karo secara garis besar, makanan dapat dibagi ke dalam dua bagian besar yakni makanan sehari-hari dan makanan khusus.

Makanan sehari-hari adalah makanan yang setiap harinya dikonsumsi oleh mereka, sedangkan makanan secara khusus adalah makanan yang hanya ada pada saat-saat tertentu saja baru ada.

Makanan sehari-hari suku Karo hampir sama dengan makanan suku lainnya di Indonesia. Makanan pokoknya adalah beras, ditambah lauk-pauk yang dalam bahasa Karo disebut dengan ikan ras gulen (ikan dan sayur).

Secara singkat makanan khusus tersebut dapat berupa cimpa dan ragamnya, rires (lemang), terites, cipera, tasak telu, kidu, tape, cingcang, daging tutung (panggang) dan lain sebagainya.

Biasanya setiap makanan khusus tersebut disajikan dalam acara-acara khusus suku Karo antara lain:
1. Kerja Tahun (pesta tahunan) biasanya menyajikan cimpa, lemang, beragam masakan daging, tape, terites atau disebut juga pagit-pagit.
2. Kerja nereh empo (pesta perkawinan) biasanya menyajikan daging, cingcang dan kadang juga terites.
3. Mbesur-mbesuri (pesta untuk syukuran ketika padi mau berbuah dan ketika seorang ibu hamil) biasanya disajikan beragam cimpa, cipera, tasak telu dan pola(nira).
4. Erpangir (mandi buang sial) biasanya menyajikan tasak telu, cipera dan pola.
5. Perumah begu (memanggil arwah) biasanya menyajikan tasak telu, beragam cimpa, dan cipera.
6. Mengket Rumah Mbaru (masuk rumah baru) biasanya menyajikan cimpa, pisang, makanan dari daging kadang juga menyajikan terites jika memotong lembu.

Masih banyak acara khusus dalam suku Karo yang menyajikan makanan khas Karo tersebut. Ada juga makanan yang dikonsumsi sehari-hari yang agaknya aneh seperti laba-laba sawah, ulat pohon rumbia, cibet (metamorfosa dari capung) dan banyak makanan aneh lainnya.

Suku Karo memang memiliki sedikit keanehan dalam hal makanan. Banyak makanan yang dianggap jijik bagi suku lain merupakan makanan favorit di kalangan orang Karo.

Sebut saja misalnya laba-laba (lawah-lawah) yang di dapat di persawahan mereka konsumsi. Juga kidu atau ulat dari pohon rumbia yang kadang dimakan mentah-mentah, orang karo juga memakan anjing tanah( singke) yang di persawahan.

Mungkin yang disebutkan itu hanyalah baru beberapa makanan aneh dalam Suku Karo dan pastinya masih banyak makanan lainnya.

Terites

Salah satunya adalah “terites”, sejenis makanan yang bahan dasarnya secara kasar adalah makanan lembu yang telah berada dalam usus lembu. Terites atau sebagian masyarakat lain lebih mengenalnya dengan sebutan pagit-pagit merupakan salah satu makanan yang menurut suku lain adalah hal yang aneh dan mungkin menjijikkan. Terites tersebut diambil dari lambung kedua sapi (lembu dalam masyarakat Karo) dalam istilah biologinya dikenal dengan istilah rumen namun dalam orang Karo disebut tuka si peduaken (usus nomor dua). Kata pagit-pagit sendiri berarti ‘yang pahit-pahit’ adalah padanan kata yang paling cocok.

Secara singkat deskripsi biologis yang dimaksud dengan terites adalah sebagai berikut:
Sapi atau lembu adalah sejenis mamalia yang memamah biak yang mana mengunyah makanan sebanyak dua kali sebelum menjadi kotoran sebenarnya (feces).

Makanan yang telah dikunyah pertama oleh lembu masuk ke reticulum lembu. Ketika lembu nantinya istirahat maka makanan yang dari reticulum tersebut dikunyah kembali oleh lembu di mulutnya kemudian dimasukkan ke perut ke dua yang disebut rumen.

Dalam rumen inilah berbagai enzim pencernaan lembu bercampur dengan makanannya jadi sari makanan, nutrisi, enzim pencernaan masih banyak disini karena disini hanya pencampuran.

Sedangkan penyerapan ada di usus ketiga (usus halus) dan kotoran aslinya ada di usus nomor empat.

Terites sendiri diambil dari usus kedua jadi secara biologis memungkinkan banyak terdapat nutrisi, enzim disana, bukan kotoran yang sebenarnya seperti yang diperbincangkan banyak orang selama ini.

Namun ada juga masyarakat Karo yang membuat terites tidak hanya dari lembu saja tapi dari kambing dan kerbau juga. Ketiga makhluk tersebut memang sama dalam proses pencernaannya. Tapi yang paling sering dibuat menjadi tersites adalah dari lembu atau sapi. Orang luar banyak menyebut terites ini dengan sebutan soto Karo karena memang mirip dengan soto. Tapi sedikit berbeda dengan rasa dan aroma, terites ini didominasi oleh aroma sari dari usus lembu tersebut.

Namun dalam hal ini terites tersebut tidaklah dianalisis secara ilmu gizi atau biologi tapi secara sosiologi, yakni makna dari terites itu sendiri bagi masyarakat Karo.

Terites adalah makanan yang dimasak dengan beragam bumbu secara Suku Karo. Seperti asal katanya yakni pagit berarti pahit, rasanya memang agak sedikit cenderung ke pahit karena bahannya sari rumput dari usus lembu dan juga bumbu lain yang umumnya terasa pahit juga.

Terites ini memiliki bahan dasar sari (perasan air) dari usus lembu tersebut, bungke yang banyak (rimbang), sere, daun ubi, asam yang banyak, jahe, cingkam (kulit kayu hutan yang rasanya juga pahit) dan bulung-bulung kerangen (sejenis daun-daun kayu hutan yang banyak ragamnya tapi memang untuk dikonsumsi).

Terites sendiri dimasak minimal selama tiga jam dalam api kadang dimasak sampai enam jam. Terites ini juga dicampur dengan babat, kikil dan daging dari lembu tersebut ketika dimasak.

Beragam makna makan terites juga ada dalam masyarakat Karo. Makna tersebut ada yang berupa mitos dan ada juga yang berupa fakta.

Bagi masyarakat Karo, makna dari makanan terites tersebut antara lain secara garis besarnya dapat mengobati berbagai macam penyakit (persepsi masyarakat, bukan medis); antara lain: penyakit maag, masuk angin dan meningkatkan nafsu makan.

Makna budaya yaitu bagaimana terites dapat menggambarkan budaya atau tradisi ritual tetap berjalan yang didasarakan atas kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dan sebagai makna ritual budaya.

Share This Post On

1 Comment

  1. Bujur ulasan makanan Karo ini Indra Ketaren.
    Sangat bermanfaat bagi konsumen Karo dan juga bukan Karo.
    Terutama soal teritesnya, dijelaskan sejara biologis (sapi) atau hewan mamalia lainnya. Ada juga ulasan ahli-ahli lain yang memuji gizi yang terdapat di terites dan manfaatnya bagi kesehatan manusia.

    Berlainan halnya dengan kopi luak yang harganya sangat mahal, terites masih murah hehehe . . . Kopi luak jelas adalah kotoran musang, dbersihkan jadi kopi minuman. Kalau diteliti dan dirasarasakan masih terasa ‘luaknya’ atau kotorannya dan dimana gizinya atau kehebatan koffeinnya tidak pernah di sebutkan. Tapi mahal. Apakah karena patent? Terites bisa juga dipatentkan supaya mahal, tapi barangkali bertentangan dengan cita-cita hidup Karo.

    Saya teringat beberapa barang nasional Indonesia dijadikan barang Malaysia atau patent Malaysia.
    Kunyit bahan kuri India dipatenkan oleh satu perusahaan Amerika. Tetapi pemerintah India komplain dan menang di pengadilan, karena kunyit sudah sejak era purbakala adalah makanan India dan bahan obat. (Juga Indonesia).

    Ketika Yoga diperdagangkan di Amerika dan dijadikan patent satu perusahaan, juga dibantah oleh India sebagai sumber Yoga. Yoga disebarkan untuk kebahagiaan manusia, bukan cari duit, kata seorang guru Yoga baru-baru ini.

    Untuk menghindari pencopetan barang-barang asli negeri ini, India sekarang bikin daftar e-book semua barang-barang asli India, jadi tak bisa lagi dipatentkan sembarangan oleh orang-orang rakus duit negeri lain.

    Tidak salah juga kalau TERITES didaftarkan dalam e-book Karo, menjaga satu waktu jangan dipatentkan orang lain. Kita tidak mau kehilangan terites hehehe . . .

    MUG

    Post a Reply

Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
%d bloggers like this: