Tidurlah Dengan Damai Bersama Lantunan Kulcapimu, Kawan Kami Djasa Tarigan

Dr. Clara Brakel (Universitas Leiden): “Selamat Jalan, Perkatimbung Beru Tarigan.”

Djasa Tarigan memainkan keyboard bergabung bersama penarune dan penggual-penggualnya mengiringi acara Erpangir Ku Lau di Laudebuk-debuk (Foto: Ita Apulina Tarigan)

Djasa Tarigan memainkan keyboard bergabung bersama penarune dan penggual-penggualnya mengiringi acara Erpangir Ku Lau di Laudebuk-debuk (Foto: Ita Apulina Tarigan)

Averiana 4AVERIANA BARUS. MEDAN. “Djasa itu eksploratif. Saya mengenalnya sejak awal kariernya dan dia itu orang yang selalu ingin menghasilkan sesuatu yang baru. Semoga setelahnya lahir Djasa-Djasa yang muda,” tutur Pulumun Ginting, Dosen Seni Unimed yang tengah menyelesaikan Doktornya di Universitas Udayana Bali.

(Video ini menampilkan Djasa Tarigan memainkan Penganjak Kuda Sitajur yang terkenal melalui rekaman kaset Turi-turin Kuda Sitajur yang dituturkan dan diiringi kulcapi tunggal oleh Pa Betul Ginting dari Desa Bukit, Kabupaten Karo)

Djasa Tarigan, pemetik kulcapi handal kebanggaan Karo itu telah tiada, kini. Serangan jantung merenggut nyawa pria yang diakui banyak pihak sebagai maestro musik Karo ini di rumahnya [Senin 17/6], di kamarnya, dan tak terbangun lagi dari tidurnya Pkl. 06.00, seperti yang diakui istrinya.

Berjasa besar terhadap perkembangan musik Karo karena pria 50 tahun ini telah berhasil mengeksplorasi musik tradisional Karo dan memindahkannya ke dalam bentuk digital. Ini cukup fenomenal  karena dia orang yang pertama sekali memperkenalkan Gendang Keyboard sebagai ensambel musik pengiring dalam upacara adat Karo. Dia juga  merevitalisasi musik tradisional Karo dengan menghidupkan kelompok-kelompok grup musik tradisional Karo seperti Gendang Lima Sendalanen dan mentransfer ilmunya pada anak-anak muda yang tertarik dengan instrumen Karo.

Djasa Tarigan (kiri) dan Yoe Anto Ginting bersama Perkumpulan Karo Eropah (Perkoeah) di Belanda beberapa tahun silam

Djasa Tarigan (kiri) dan Yoe Anto Ginting bersama Perkumpulan Karo Eropah (Perkoeah) di Belanda beberapa tahun silam

Perawakan tingginya dengan wajah penuh senyum itu tak lagi bisa dijumpai di rumahnya yang sekalian ditata sebagai studio musiknya di Jl. Bunga Herba II, Padangbulan (Medan) yang juga sebagai tempat berkumpulnya para seniman-seniman Karo dari tua hingga muda.

Lahir 19 Oktober 1963 di Tanah Karo, suami Sabarina Surbakti ini mengawali karirnya sejak tahun 1980, dengan mempromosikan musik Karo tradisional ke tingkat nasional dan internasional.  Djasa yang sejak usia belia sudah menguasai berbagai alat musik Karo ini akhirnya berhasil menyabet piagam penghargaan dari berbagai negera seperti Amerika Serikat, Belanda, Perancis, Bosnia, Philipina dan Turki. Walau terkenal sebagai pemetik Kulcapi, yang belakangan sering diminta orang untuk mengiringi acara ritual Karo, Djasa menguasai dengan sangat baik alat musik Karo lainnya seperti Sarune, Surdam, Balobat, ketteng-ketteng, gendang dan alat musik modern seperti gitar dan keyboard.

Baginya, mengunjungi kota-kota besar di nusantara bahkan berkeliling dunia sebagai undangan atau duta sudah biasa. Terakhir, Ayah Rocky Tarigan ini meraih peringkat ke tiga International Rondalla Festival Querdas sa Pagkakaysa di Tagum City Philipina, 12-19 Februari 2011. Di ajang itu pula Djasa Tarigan kembali dianugerahkan gelar Maestro Kulcapi, Player Musik Petik Nomor Satu Dunia.

Sebelumnya, Djasa yang juga pernah menjadi mahasiswa Etnomusikologi sekalian mengajar musik Karo di Universitas Sumatera Utara ini. Dia menerima pengharagaan Maestro dari Technics di Osaka Jepang 2001, Maestro Kulcapi Karo di Manila 2011. Tangan dinginnya telah menjadikan banyak seniman Karo seperti pemusik dan penyanyi.

Sebagai seorang seniman, pria ini cukup sukses karena hidup dari sana. Djasa Tarigan bebere Karo ini telah dikubur [Rabu 18/6] di Bulanjulu (Kabupaten Karol) setelah dilakukan penghormatan secara adat di Jambur Halilintar (Medan). Malam sebelumnya, di rumah duka, para seniman Karo menghormati sang Maestro ini dengan menyumbangkan lagu-lagu kenangan mereka dengan Djasa.

Koreografer tari Karo Juara R. ginting bersama beberapa penari TARTAR BINTANG di Nederland

Koreografer tari Karo Juara R. ginting bersama beberapa penari TARTAR BINTANG di Nederland

“Djasa Tarigan sudah terlahir sangat musikal sehingga dia dengan mudah mempelajari alat musik apa saja. Baginya, ritme adalah dasar terpenting dari musik Karo. Karena itu, dalam proses pengenalan dan pelatihan musik Karo dia selalu mewajibkan menguasai ketteng-ketteng terlebih dahulu sebelum mempelajari alat-alat musik Karo lainnya,” ujar Juara Ginting, Antropolog Karo yang pernah membawa Djasa tampil di Tongtong Fair, Den Haag.

Selanjutnya, Juara mengatakan julukan maestro kulcapi dan penemu kibot Karo untuk Djasa Tarigan adalah tepat. Tapi dia menganggap keistimewaan Djasa ada pada permainan ketteng-ketteng.

“Djasa seperi menari di atas awan ketika memainkan ketteng-ketteng. Dia bisa memproduksi berbagai bunyi dari seruas bambu itu. Awal karirnya adalah sebagai pemain ketteng-ketteng dari seniornya dalam kulcapi, Tukang Ginting,” kenang Juara yang sudah berteman dengan Djasa sejak Djasa masih pemain ketteng-ketteng.

Menurut antropolog dari Universitas Leiden, Beatriz van der Goes, Djasa Tarigan telah berjasa membuat musik tradisional Karo tetap berharga di mata orang-orang Karo dan memperkenalkannya ke dunia. Beatriz telah berkenalan dengan Djasa sejak tahun 1987 saat melakukan penelitian di Medan.

Pakar tari Indonesia Dr. Clara Brakel (Universitas Leiden) sangat terkejut mendengar kematian Djasa Tarigan. Clara dan Djasa telah berteman sejak Djasa dan Yoe Anto Ginting datang ke Belanda mendukung kelompok tari Karo TARTAR BINTANG dimana Clara adalah sebagai penasehat tari dan busana.

Ketika ditanyakan melalui telefon apa kenangan paling indah baginya selama beberapa kali bekerjasama dengan Djasa Tarigan, dia menarik nafas panjang.

“Banyak kenangan indah dengannya. Tapi satu hal, yang tak bisa lupa, ketika dia menuturkn kisah Perkatimbung Beru Tarigan. Juara Ginting mengolahnya ke dalam tarian yang ditarikan oleh seorang beru Tarigan pula. Saat itu, Djasa menuturkannya sambil memainkan kulcapi dengan lagu Perkatimbung Beru Tarigan. Saya yang menulis teks penjelasan tarian dan lagu itu untuk penampilan di Tongtong Fair,” tutur Clara.

Satu hal lain yang istimewa dari Djasa menurut Dr. Clara Brakel yang pernah meneliti suku Pakpak bersama suaminya Prof. Lode Brakel adalah kemampuan Djasa menampilkan musik tradisional Karo ke publik Barat tanpa mengurangi sedikit pun ketradisionalannya.

“Selamat jalan, Perkatimbung Beru Tarigan …..” desah Clara mengakhiri percakapan.

Share This Post On

3 Comments

  1. Kiranya pemerintahan daerah Tanah Karo memberi penghargaan buat kelurga pak Djasa tarigan yg telah memberikan sumbangan kebudayan yg begitu berharga buat Tanah Karo..
    Selamat jalan buat sang maestro….

    Post a Reply
  2. Amazing kukataken man anak beru kami alm. Djasa Tarigan ningku sekali lebe, sangat besar jasanya bari perkembangan musik tradisional etnis Karo juga berkat jasanya juga bisa di mix dengan gendang keyboard (musik modern), Sumatera Utara. Hanya seuntaian kata-kata yg dapat saya ungkapkan sbg tandq ungkapan sayang telah berkurang seorang musisi/seniman Karo sbb: ” Pak Djasa Tarigan orang yang berjasa mengembangkan alunan musik khas Karo (kecapi, ketteng2, keyboard dan sebagainya). Semasa jayanya selalu dikenang jasanya, namun setelah kepergiannya juga akan tetap diingat jasanya oleh masayarakat Karo khususnya pecinta sei secara universal “.

    Post a Reply
  3. tanggal lahir kita sama kila djasa

    Post a Reply

Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
%d bloggers like this: