Pengungsi Ndai Kang Menanggung Deritanya

Jhon Rockyjhon rocky 2JHON ROCKY. KABANJAHE. Sejak ditandatanganinya Juknis Relokasi Mandiri tentang penanganan Pengungsi Tahap ke II oleh Bupati Karo 21 Juni 2016 silam, sampai saat ini, nasib pengungsi korban erupsi Sinabung masih terkatung katung. Tanpa tanpa ada kejelasan sedikitpun. Berbagai persoalan timbul akibat banyaknya kepentingan yang disinyalir dimainkan sekelompok orang yang hanya memikirkan “proyeknya”  sendiri.

Besarnya dana penanggulangan pengungsi ini menyebabkan banyak orang dari kalangan mafia tanah tergiur untuk mendapatkan “jatah”. Para makelar tanah ini saling berlomba mengobral lahan mereka untuk dijual kepada pengungsi.

Tidak mengherankan bila hal ini yang menyebabkan timbulnya berbagai persoalan yang selalu merugikan pengungsi. Seperti penolakan sekelompok orang yang mengatasnamakan warga Desa Lingga atas lahan eks BTN yang ingin dijadikan sebagai lahan pemukiman bagi 4 desa korban erupsi Sinabung. Tak tanggung-tanggung, penolakan ini bahkan menelan korban jiwa. Diduga, anarkisnya warga yang menolak Relokasi Mandiri di eks BTN Lingga ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin mencari untung di atas penderitaan Pengungsi.

Seorang pengungsi dari merga Ginting ketika diwawancarai Sora Sirulo mengatakan, nasib pengungsi semakin tak jelas sejak bentrokan antara warga Desa Lingga dengan pihak kepolisian 2 minggu lalu, yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka. Ditambah lagi pihak Pemkab Karo menyatakan bahwa lahan Eks BTN Lingga dalam status quo.




“Mau ke mana dibawa nasib kami?” katanya bertanya.

Selanjutnya dia memaparkan, sampai saat ini, status pengungsi yang memilih lahan di Eks BTN itu belum jelas.

“Hidup kami ibarat wayang yang sedang dimainkan dalang tanpa mengetahui apa yang terjadi di akhir cerita. Mereka sibuk memainkan skenario agar jatah mereka tetap aman. Tak sekalipun mereka berpikir berpikir akan penderitaan kami pengungsi ini. Kami ini orang awam. Tolong jangan permainkan hidup pengungsi, kami sudah sangat le …..lah untuk semua derita ini,” ujarnya sambil menangis dan terbatuk-batuk memperlihatkan goncangan jiwa dengan getaran berat.

Seperti diketahui lebih dari 1500 KK pengungsi dari 4 Desa memilih Lahan eks BTN menjadi lahan pemukiman mereka, namun kehadiran pengungsi ditolak sekelompok orang yang mengatasnamakan warga Desa Lingga.









Share This Post On
468 ad

Leave a Reply

%d bloggers like this: