Kolom Darwono Tuan Guru: Kepentingan Nasional Sebuah Negara

Darwono Tuan GuruBerbicara tentang kepentingan nasional sebuah negara, tentu itu merupakan hal utama bahan pertimbangan bagi sebuah negara dalam melakukan penyelenggaraan negara bersangkutan, termasuk dalam melakukan hubungan internasionalnya. Setiap program kerjasama luar negerinya, sudah barang tentu bertujuan mendapatkan keuntungan atau sebuah investasi jangka panjang bagi kepentingan nasionalnya.

Program pemberian beasiswa dari manapun, entah dari jepang (Mombusho), Amerika Serikat (USAID), dll. sudah barang tentu tidak lepas dari tujuan infestasi jangka panjang. Anak-anak bangsa yang potensial, jelas merupakan investasi yang sangat prospektif bagi negara asal dan negara pemberi beasiswa.

Berfikir strategi tentang kepentingan nasional negara pemberi beasiswa, jelas mereka tidak mau memelihara harimau yang suatu saat melumat kepentingan nasionalnya. Oleh karena itu, menjadi sangat beralasan jika mereka melakukan “domestikasi”, program penjinakan bagi para harimau, semua yang mereka biayai dengan berbagai cara, bahkan untuk negara tertentu bisa saja menghalalkan segala cara.

studi 2Di dunia militer, kita dengan mudah melihat fakta bahwa jenderal-jenderal sebuah negara, lebih patuh pada mentornya di Pentagon serta dengan bengis membantai bsngsanya dan membunuh kepentingan nasionalnya. Betapa banyak pemimpin negara yang berasal dari militer didikan Pentagon hanya tampil sebagai boneka Amerika dan bahkan menjadi pelayan untuk menjamun kepentingan Amerika. Tragedi 65 yang melibatkan perwira tinggi didikan Pentagon yang di Maintainance CIA adalah fakta nyatanya.

Dari sejarah kita juga bisa membaca, betapa orientasi perjuangan Indonesia merdeka sangat dipengaruhi dimana para aktivis pergerakan kemerdekaan itu menimba Ilmu. Maka kita tidak heran jika tokoh potensial seperti R.A. Kartini “diiming-imingi” beasiswa ke Negeri Belanda, tentu para feminisme yang menyarankan Kartini ke Belanda berharap dapat menjadikan Kartini sebagai kader militan.




Demikian juga di bidang ekonomi, mafia Barclay diantaranya Sri Mulyani sebagai kader cemerlang JB Sunarlin Cs, telah mengubah ekonomi yang disusun berdasar azas kekeluargaan telah dirubah total menjadi ekonomi kapitalis neoliberalis, indikasi jelas dengan titk berat pertumbuhan dan nelupakan pemetaan kesejahteraan sebagai nikmatnya kue pembangunan. Ketimpangan yang sangat mencolok, kekayaan hanya berpusat pada segelintir orang adalah fakta yang tak terbantahkan sangat nyata di Indonesia.

Bagaimana dengan mereka yang “dibina” oleh negara-negara Timur Tengah, yang menampilkan Islam garis keras, wahabiah, dll. yang juga kadang bikin resah?

Bagi penulis mereka semuanya sama-sama mengalami “domestikasi” penjinakan kepada kepentingan negara dimana mereka menempuh pendidikan. Yang beda hanyalah jenis dan cara mengartikulasikannya di negara target yang disebut Indonesia.

Jadi, kita perlu waspada, kan?




Share This Post On
468 ad

1 Comment

  1. Sangat menarik dan sangat aktual sekarang ini untuk meninjau politik dunia dari segi kepentingan nasional atau dari kepentingan ”ekonomi kapitalis neoliberalis”, apalagi jelas ada kaitannya dengan pemberian bea siswa dari negeri-negeri luar itu. Perjuangan antara dua kepentingan inilah juga yang telah menjadi kontradiksi pokok dunia sekarang yang telah semakin nyata didepan kita di negeri ini terutama setelah reshuffle kabinet yang terakhir dimana soal ekonomi-keuangan telah dikuasai oleh orang-orang mafia Barclay yang sudah dapat pendidikan ”domestikasi”, penjinakan kepada kepentingan negara dimana mereka menempuh pendidikan.

    Presiden Soekarno pernah mengirimkan mahasiswa secara besar-besaran ke LN dalam rangka belajar dan menimba ilmu demi membangun Indonesia setelah mereka pulang kembali ke tanah air. Memang sangat terlihat ketika pulang dari negeri-negeri luar itu terutama karena ketika itu berlaku kontradiksi pokok dunia antara blok barat dan blok timur, maka sarjana-sarjana tamatan LN itu juga terbagi di Indonesia, mana yang blok timur atau blok barat. Ideologi blok timur kemudian ternyata kalah total karena keruntuhan bolok timur itu dan ideologi blok barat kapitalis neoliberal menang total pula dengan sendirinya.

    Tetapi apa yang tak diduga sama sekali oleh blok yang menang ini ialah bahwa tantangan utama bagi mereka sekarang bukan lagi blok timur, tetapi blok nasional-kultural seluruh dunia, artinya nation-nation dunia dan suku-suku bangsanya secara kultural (dari tesis-antitesis-syntesis muncul kontradiksi baru). Kontradiksi baru ini mencakup kultur/budaya nation-nation atau suku-suku bangsa dunia, diman ini tidak termasuk dalam kontradiksi lama antara blok barat dan blok timur. Kontradiksi baru ini termanifestasi secara ekonomi dalam perjuangan untuk kepentingan nasional dan yang lainnya untuk kepentingan kapital neoliberal yang sudah semakin jelas dengan tujuan ”global hegemony” (istilah prof DR Chossudovsky Ottawa University) untuk menguasai duit dan aliran duit seluruh dunia. Duit adalah Tuhan bagi orang-orang ini, sesuai juga dengan kritikan Paus Fransiskus atas global ekonomi ini. Dan itu diutarakan oleh neoliberal dalam bentuk pertumbuhan/grow, pertumbuhan duit dan penguasaan atas duit/aliran duit sebagai alat utama menguasai duit. Dan duit memang adalah segala-galanya, atau Tuhan kata Paus Fransiskus.

    Menguasai duit dan aliran duit otomatis menguasai segala-galanya, termasuk penguasa/pejabat sampai ke presiden negeri berkembang seperti Indonesia. Narkoba adalah salah satu cara menguasai duit dan mentelerkan pejabat, juga melumpuhkan rakyat banyak supaya gampang dikendalikan. Terorisme cara lain lagi untuk menakut-nakuti pejabat/penguasa, juga supaya bisa dikendalikan dengan gampang. Contohnya presiden Hollande bikin a state of emergency seluruh Perancis karena takut sama teroris seperti supir psikis sebuah truk menggilas mati 80 orang di Nice tempo hari itu, dan Hollande menamakan teror Nice itu sebagai teror islam. Berlainan dengan presiden Jokowi menandaskan tak perlu takut sama teroris karena tujuannya memang menakut-nakuti.

    “di bidang ekonomi, mafia Barclay diantaranya Sri Mulyani sebagai kader cemerlang JB Sunarlin Cs, telah mengubah ekonomi yang disusun berdasar azas kekeluargaan telah dirubah total menjadi ekonomi kapitalis neoliberalis, indikasi jelas dengan titk berat pertumbuhan dan melupakan pemetaan kesejahteraan sebagai nikmatnya kue pembangunan.” kata Darmono Tuan Guru dalam kolomnya di Sora Sirulo.
    Jadi persoalan ekonomi Indonesia sekarang ini sudah hampir sepenuhnya dikuasai oleh pejabat neoliberal dalam kabinet Jokowi dengan Sri Mulyani sebagai salah satu aktor pentingnya. Grow itu akan diikuti dengan pertambahan utang yang semakin menjepit leher rakyat negeri Indonesia. Juga akan diikuti dengan pengurangan fasilitas sosial bagi rakyat miskin dan publik pada umumnya demi grow.

    MUG

    Post a Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: