Kolom S. Sembiring: Angin Surga [Wakil] Bupati

Salmen 1Kalau jadi, Bupati Deli Serdang telah berkunjung ke Negeri Gugung (Kecamatan Sibolangit) kemarin dulu [Rabu 14/9]. Bagi masyarakat kebanyakan (tidak lebih dari 500 jiwa penduduknya), peristiwa ini adalah luar biasa. Mengapa demikian? Sepanjang sejarah Kemerdekaan RI, inilah pertama kali desa ini dikunjungi oleh bupati.

Dalam sebuah percakapan, kepala desa dengan ketua kelompok tani yang mengelola pembibitan tampak begitu sibuk dan agak “gagap” menyambut sang bupati.

Mereka membicarakan konsumsi, spanduk, makanan ringan berupa jagung dan ubi rebus, manggisjuga tari – tarian penyambutan. Ketika di warung kopi, yang juga satu-satunya warung kopi di desa tersebut, juga membicarakan hal yang sama. Mereka tidak paham apa yang akan diucapkan, apa yang akan dibicarakan dan apa yang harus dilakukan. Ya, begitulah antusiasme warga yang dapat digambarkan secara singkat.

Ya, namanya juga politik, pasti ada sesuatu di suatu tempat sehingga mau dikunjungi. Di sana sedang digalang sebuah kelompok tani dengan fokus komoditas manggis yang sunter. Kabarnya sangat bergaung.

Mengapa harus ada dulu yang “seksi” baru dikunjungi oleh pemerintah setempat? Bukankah seharusnya pemerintah lebih sering mengunjungi tempat – tempat yang “tertinggal”? (Sampai – sampai masyarakat tidak mengerti cara menyambut seorang pejabat).

Ini saya lihat sebagai cambuk keras bagi pemerintahan di daerah kita. Semakin canggung atau cemas bertemu dengan seseorang itu artinya jarak (hubungan sosial dan emosional) antar orang tersebut adalah jauh.

Mundur sekitar 3 atau 4 bulan lalu, wakil Bupati Karo juga mengunjungi Desa Serdang padi-3(Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo). Kejadiannya mirip dengan apa yang dilakukan Bupati Deliserdang hari ini karena ada yang “seksi”. Desa Serdang merupakan demonstrasi plotting (demplot) pertanian lahan basah untuk pengembangan vairetas padi dataran tinggi. Tidak main – main, sponsor dari demplot ini adalah bantuan dari pemerintah/ LSM Jerman. Tentunya demplot penangkaran padi ini berhasil, dan karena ini juga yang membuat wakil bupati bersedia mengunjungi desa paling Timur di Kabupaten Karo ini untuk melakukan panen padi.

Sedikit berbeda dalam kunjungannya, tidak seperti warga Desa Negeri Gugung yang canggung menerima kunjungan pertama pemerintahnya, warga Desa Serdang tampaknya sudah biasa dikunjungi oleh pemerintah. Namun, bukan di situ masalahnya, kunjungan pemerintah daerah seperti tiupan angin surga yang disusul oleh awan kelam. Lontaran janji janji pembangunan sejenak menyejukkan terutama masalah infrastruktur yang memang begitu mengancam jiwa menuju Desa Serdang. Sangat terekam dengan baik, dan disaksikan ratusan pasang mata, wakil bupati menjanjikan perbaikan jalan ke Desa Serdang. Lebih jernih lagi terekam ketika wakil bupati menjanjikan perbaikan tidak akan menunggu hitungan bulan.

Ya, angin surga berhembus seminggu, 2 minggu dan tiba saat pesta tahunan di bulan Juli. Angin surga berubah menjadi awan kelam. Jalanan yang mengancam jiwa tetap saja menganga hingga awal September 2016 ini.




Sedikit berbeda dengan presiden Jokowi yang juga suka blusukan tanpa menunggu yang “seksi”. Lebih berbeda lagi ketika Jokowi suka mengambil tindaan cepat dalam apa yang ia janjikan. Ya, tentunya tidak dapat kita samakan kekuasaan seorang presiden dengan bupati di daerah. Namun, pemerintah daerah perlu belajar dalam hal mengunjungi wilayah kerjanya tanpa harus ada sesuatu dan sedikit menjaga mulut jika tidak mampu melakukan tindakan.

Desa Negeri Gugung juga memiliki infrastruktur terutama jalan hampir mirip dengan Desa Serdang. Kunjungan kedua pemerintah daerah ini juga mirip, yakni karena ada yang seksi di desa tersebut, bukan karena memang ingin memajukan desa, tapi melihat desa yang sedang bergerak maju karena kedatangan pihak luar. Dan, ini bukan kebanggaan tentunya bagi pemerintah melainkan cambuk.

Mengapa cambuk?

Ya, kita punya potensi tapi harus disadarkan oleh orang lain dahulu baru kita sadar kita punya sesuatu. Ini berada di antara keterlambatan atau persoalan “good will” pemerintah daerah. Semoga kunjungan bupati ke depannya bukan hanya membawa “angin surga” melainkan membawa “lau si malem – malem”.








Share This Post On
468 ad

Leave a Reply

%d bloggers like this: