Ketika Buaya Keramat Mencuri Manusia di Tepian Sungai Lembang (Aceh Selatan)

 

Laporan Wartawan Sora Sirulo dari Tapak Tuan (Aceh Selatan)

SALMEN SEMBIRING

 

SALMEN FOTOHubungan manusia dengan satwa liar tidak selalu harmonis. Wilayah jelajah yang bersinggungan atau semakin sempit sering menimbulkan bencana bagi kedua pihak. Seorang santri Pondok Pesantren Tradisional tewas diterkam seekor buaya rawa di tepi Sungai Lembang [Jumat 9/9]. Pagi itu, korban bersama 3 temannya sedang mencuci kain dan mandi di lokasi Krueng Lembang. Tiba-tiba, buaya datang dari arah samping, menerkam salah seorang santri berinisial F (14), warga asal Desa Pasie Lembang (Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan).

Pada saat diserang buaya, temannya sempat berusaha menolong dengan menarik tangan korban, namun upaya penyelamatan yang dilakukan tidak membuahkan hasil.

Sela beberapa menit setelah kejadian, raja sungai ini muncul ke permukaan dengan memperlihatkan jasad korban di mulutnya, dalam kondisi tidak bernyawa lagi dan selanjutnya menghilang. Melihat situasi yang terjadi, dua rekan korban lainnya  berlari menuju rumah pimpinan pondok pesantren, untuk menyampaikan informasi musibah yang terjadi di tepi sungai. Berita musibah yang menimpa santri tersebut diteruskan ke pemuka adat setempat, MUSPIKA dan MUSPIDA.

buaya

Pencarian terhadap buaya yang menerkam manusia di kampung.

Pada hari yang sama lokasi kejadian dibanjiri pengunjung untuk menyaksikan prosesi pencarian korban. Pencarian korban dilakukan oleh tim gabungan yaitu pawang buaya, SAR, BPBD, MUSPIKA, TNGL, BKSDA dan warga. Koordinator lapangan langsung dipandu oleh Kapolres Aceh Selatan. Tim memutuskan masa  pencarian korban selama 3 hari, mengingat waktu telah mendekati lebaran Idul Adha.

Jasad korban ditemukan mengambang di Kuala Krueng Lembang dalam kondisi utuh [Minggu 11/9]. Selanjutnya, mayat korban dibawa ke PUSKESMAS  terdekat untuk keperluan visum. Berdasarkan hasil visum, terdapat bekas lebam dan luka cabik di bahagian pinggang korban. Indikasinya adalah bekas gigitan. Setelah selesai dilakukannya visum, jasad korban dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan.

Berdasarkan hasil musyawarah tokoh masyarakat adat dan ahli waris, buaya yang telah menelan korban jiwa tersebut, secepatnya dilakukan penangkapan dengan bantuan seorang pawang. Pawang buaya didatangkan masyarakat, dari Desa Kapung Tinggi (Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan). Pawang ini merupakan anak dari Pawang Tua. Setelah orangtua beliau menutup usia, maka ilmu kepawangan diwariskan kepada anaknya.

buaya-2

Tubuh buaya saat hendak ditanam.

Warga bersama dengan Pawang Buaya memasang jerat di lokasi kejadian [Selasa 20/9]. Jarak 2 hari setelah jerat dipasang, buaya yang diyakini pawang bersalah pasti ditemukan. Buaya dengan ukuran panjang sekitar 2,5 meter ditemukan di lokasi pemasangan jerat dalam kondisi mati dan digiring ke daratan yaitu di halaman pesantren [Kamis 22/9: 11.00 wib].

Prosesi penyambutan serta penguburannya dilakukan sesuai resam (kearifan lokal) masyarakat pada umumnya di Daerah Aceh Selatan, serta disesuaikan dengan syarat- syarat pawang yaitu dengan menggelar pesta adat; memasang tenda adat sebagai media penyambutan, persiapan bahan dan kelengkapan lainnya seperti perangkat tepung tawar, kain kapan dan sebagainya. Prosesi penyambutan, berlangsung sampai pada Pukul 17.00 Wib. Selanjutnya penanaman, dilaksanakan di dalam lingkungan Pondok Pesantren, tempat selama ini korban menimba ilmu agama.



Kepala Desa Pasie Lembang kepada petugas TNGL dan  BKSDA Aceh menyatakan bahwa sudah 4  kali terjadi insiden serupa menimpa warganya yaitu Tahun 1970an, Tahun 2006 dan Tahun 2016. Harapan beliau kepada seluruh pihak, khususnya pemangku kepentingan untuk dapat menekan dan meminimalisir konflik satwa liar buaya dengan manusia di wilayah desa mereka, baik dalam bentuk pelatihan dan sebagainya.

Buaya sendiri merupakan hewan yang dikeramatkan bagi masyarakat sekitar Sungai Lembang. Bersadarkan kejadian tersebut bahwa perlu diberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pengetahuan untuk mitigasi konflik antara buaya dan manusia. Pengetahuan mengenai teknik penyelamatan diri juga pengetahuan seputar kehidupan satwa liar buaya perlu diberi kepada anak-anak. Mengingat masih terdapatnya pawang buaya di daerah tersebut maka kearifan-kearifan lokal juga perlu dikembangkan untuk meminimalisir konflik.




Share This Post On
468 ad

Leave a Reply

%d bloggers like this: