Derita Petani Karo Lagi (Kemarau Ini Terlalu Panjang)

kemarau-2



rikwan sinulinggaRIKWAN SINULINGGA. BERASTAGI. Penderitaan petani Dataran Tinggi Karo tak kunjung usai. Sampai saat ini, Gunung Sinabung masih rutin mengeluarkan debu vulkaniknya yang menerpa tanaman petani; terutama di bagian Timur Gunung Sinabung.

Ini membuat rusaknya tanaman para petani, ditambah lagi kemarau yang berkepanjangan.

“Sejak Maret sampai saat ini, curah hujan sangat minim hampir di seluruh Dataran Tinggi Karo,” demikian keluhan para petani yang salah satunya Pak Joni Brahmana (46), warga Desa Jaranguda – Berastagi.

Pak Joni ditemui oleh Sora Sirulo di lahan pertaniannya yang sedang ditanami tomat. Hampir putus asa dia menghadapi kondisi cuaca saat ini. Di samping harus menambah biaya membeli air untuk penyiraman tambahan paling tidak seminggu sekali, perkembangbiakan hama juga sangat cepat berkembang.

kemarau 1Hal senada juga dikeluhkan oleh Pak Turnip (50) petani prei di Desa Jaranguda – Berastagi.

“Jika musim hujan, tanaman prei ini bisa tumbuh normal bahkan 70-80 cm dalam 2,5 bulan. Ini malah pendek dan batangnya mengecil. Daunnya banyak menguning. Padahal ini juga sudah saya siram paling tidak seminggu sekali,” keluh Turnip.

“Yah, kami hanya berharap agar hujan secepatnya turunlah jangan sampai gagal panen,” harap para petani.

Tak hanya petani tomat dan prei, petani jagung di Tigabinanga dan Lau Baleng juga sudah mengeluhkan ratusan hektar tanaman jagung mereka yang tak bisa tumbuh akibat kekurangan air. Bahkan, yang sudah tumbuh pun mulai terlihat daunnya menggulung akibat kekeringan. Padahal, modal tanam dari bibit, pupuk dan tenaga kerja sudah habis banyak.

“Jika seminggu lagi tak hujan, mungkin harus ditraktor kembali dan ditanam ulang,” kata beberapa petani yang  ditemui oleh Sora Sirulo di daerah Tigabinanga dan Lau Baleng.

“Kerugian petani sudah banyak, namun yang diharapkan untuk dipanen pun tak ada,” keluh para petani di media sosialnnya.



Share This Post On
468 ad

Leave a Reply

%d bloggers like this: