Kolom W. Wisnu Aji: JAKARTA BUTUH PEMIMPIN EKSEKUTOR BUKAN KONSEPTOR

wijayanto 8Ketiga pasangan Cagub DKI sudah didaftarkan, banyak analisa dilontarkan menyikapi sosok figur yang muncul, mulai analisa tesa antitesa antar figur, pertarungan super elit hingga idealisme pasangan calon. Bahkan ada analisa mengenai perang gagasan antar calon dari sudut pandang track record figur. Lalu pertanyaannya, pemimpin seperti apa yang cocok bagi Jakarta kekinian? Apakah Jakarta butuh sosok figur eksekutor atau konseptor?

Secara umum, memang Jakarta memiliki masalah yang multikompleks. Selain sebagai sentra ekonomi negara yang memiliki perputaran ekonomi 60% secara nasional, Jakarta sebagai ibukota negara dijadikan rujukan seluruh warga bangsa untuk mengadu nasib di sana. Pembangunan sentralistik saat itu membuat Jakarta punya persoalan yang multikomplex dengan berbagai macam karakter berada di Jakarta.

Pergantian kepemimpinan adalah keniscayaan setiap periodenya untuk merubah Jakarta lebih baik. Momen Pilkada DKI merupakan forum tertinggi rakyat Jakarta mengekspresikan proses seleksi pemimpin yang layak merubah Jakarta. Mungkinkah sosok konseptor yang idealis ataukah sosok figur eksekutor yang layak dan dapat langsung dirasakan publik Jakarta?

eksekutor-2Memperdebatkan pilihan antara sosok figur konseptor atau eksekutor ibarat memperdebatkan duluan mana telur atau ayam. Tapi, dalam kajian kami, kebutuhan akan sosok pemimpin eksekutor atau konseptor tergantung pada kebutuhan kekinian perubahan Jakarta yang dapat dirasakan publik Jakarta.

Kami akan mencoba mengulas untung ruginya sosok pemimpin eksekutor dan konseptor berdasarkan kebutuhan persoalan Jakarta yang multi kompleks saat ini.

Sosok pemimpin konseptor memang akan memiliki tingkat idealisme tinggi bagi penataan perubahan Jakarta. Bahkan, banyak analisa dimunculkan untuk mempertimbangkan berbagai macam resiko yang timbul untuk perubahan Jakarta.

Sosok pemimpin konseptor akan lebih disibukkan pada pengkajian persoalan dan pencarian solusi dari masalah Jakarta. Cuma lemahnya para konseptor karena sudah mengetahui banyak analisa dan berbagai resiko yang muncul tapi endingnya lamban dalam memutuskan kebijakan disebabkan terombang- ambingnya ketakutan resiko yang ditimbulkan.

eksekutor-3Sedangkan sosok eksekutor tidak terlalu banyak berteori maupun berwacana tentang rumusan masalah Jakarta yang dikonsepsi, akan tetapi langsung melakukan langkah-langkah nyata eksekusi persoalan dari berbagai masterplan yang sudah ada tanpa harus diribetkan persoalan resiko yang timbul dari eksekusi program yang dilaksanakan.

Sosok eksekutor hanya akan sering mengevaluasi setiap langkahnya sehingga perubahan tersebut berkelanjutan dan terus dinamis.

Lalu, sosok seperti apa yang dibutuhkan Jakarta di Pilkada DKI 2017? Kalau belajar pengalaman Pilkada 2012, yang dimenangkan oleh Jokowi yang mampu merebut hati rakyat Jakarta. Fenomena saat itu adalah bukti bahwa rakyat Jakarta sangat butuh sosok figur pemimpin yang aplikatif mengeksekusi berbagai persoalan Jakarta yang komplex. Pemimpin eksekutor ala Jokowi sangat dirindukan rakyat Jakarta untuk segera action mengambil langkah dalam pembenahan Jakarta.

Soal konsepsi, blue print masterplan bahkan rumusan solusi sudah bertumpuk- tumpuk banyak dirancang dari konsepsi Bappenas, Bappeda, Musrembangnas, RPJMN hingga Musrembangda. Namun, eksekusi dari masterplan actionplan yang dirancang baru dapat dirasakan secara kongkret di era Jokowi jadi gubernur. Publik sangat merasakan ketika Jokowi mengeksekusi mulai dari mass rapid transport (MRT) dan LRT yang telah dirancang 25 tahun yang lalu baru dieksekusi sekarang. Normalisasi Sungai Ciliwung, hingga pembenahan birokrasi Jakarta dapat dirasakan nyata oleh sosok pemimpin eksekutor ala Jokowi.




Maka, untuk Pilkada DKI 2017, kita pasti tahu sosok pemimpin Jakarta seperti apa yang dibutuhkan untuk membenahi Jakarta. Untuk Jakarta kekinian, tidak dibutuhkan lagi sosok pemimpin yang beronani wacana, tapi melainkan, sosok figur yang tegas dalam mengeksekusi program demi pembenahan Jakarta yang dapat dirasakan publik.

Sosok pemimpin yang dapat meneruskan program Jokowi dalam membenahi Jakarta yang akseleratif dan berkelanjutan. Publik Jakarta pasti rasional dalam menentukan sosok pemimpin Jakarta demi pembenahan Jakarta yang nampak dirasakan publik tanpa berputar pada konsepsi semata.

Dengan perubahan Jakarta yang nampak, maka publik Jakarta tinggal melihat dan menikmati hasil perubahan tersebut. Mari kita tinggal tunggu hasil Pilkada DKI 2017.

#SalamPencerahan

Jakarta, 30 September 2016

Hormat kami
CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT ( CS REFORM )




Share This Post On
468 ad

1 Comment

  1. Ayo kerja! Semboyan ini yang dipakai sekarang.
    Artinya konsep dinyatakan langsung dalam praktek. Dalam praktek, konsep diuji, dikembangkan dan terus diperbaiki, dikembangkan, terus diperbaiki sampai selesai satu konsep.
    Kalau ada sungai yang kotor langsung dibersihkan. kalau perlu dibentung langsung dibendung. Kalau perlu rusun langsung dibangun. Kalau harus ada drenage, bangun langsung. Tenaga kerja banyak.
    Kalau ada pejabat korupsi langsung dipecat, ganti lain.
    MUG

    Post a Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: