BANDUL (Untuk Nusron Wahid)

Oleh: Johari Ginting (Baganbatu, Riau)

 

johari-gintingTerkadang kira harus menjaga keseimbangan di saat sudah berat sebelah. Apa yang dilakukan adik sahabat Nusron “memang” Wahid melakoni hal itu. Sejatinya bukan Ahok yang ia bela. Ia benturkan dirinya guna mencegah kezholiman dan ketidakadilan. Dia sudah duga jauh sebelumnya bakal terjadi seperti itu.


Satu hal, NKRI baginya harga mati. Itu sebenarnya yang ia perjuangkan. Melekat dalam dirinya. Merasuk dalam qalbunya. Di setiap tarikan nafasnya. Di setiap sendi dan tulang rusuknya. Di setiap aliran darahnya.

Baginya, kebenaran harus ditegakkan walau langit mau runtuh sekalipun. Dia tidak akan perduli, sekalipun dicaci, duhujat apa lagi cuman dipecat. Karena itu semua pernah ia alami.

Kemaren ia hanya menjadikan dirinya sebagai BANDUL demi menjaga keseimbangan. Itulah kebenaran. 

Satu hal lagi jauh dari kemunafikan apa lagi sebagai penjilat. Dia bukan anak pejabat atau mantan pejabat. Dia bukan anak konglemerat dengan harta warisan yang melimpah. Dia dari orang miskin. Sewaktu mahasiswa ia pernah gak sanggup bayar uang kuliah. Ia tinggal di masjid.

Ia mantan Ketua Umum PB PMII. Ia Ketua Umum GP ANSHOR. Ia Kepala BNP2TKI. Ia pernah dipecat Partai Golkar. Kesederhanaan baginya tidak menghalanginya membuat perubahan besar bagi negeri ini.

Dia tetap menjadi dirinya sendiri. Diam-diam ribuan orang mendukung dia, mengidolakan dia dan seide dengan dia (maaf buat saya buka rahasia nih).

Apakah dia yang paling tahu tentang dirinya sendiri sebagaimana menjadi istilah saat ini? Untuk satu hal ini jawabnya “tidak”. Karena jawabannya ada pada sahabatnya, karena sahabatnyalah yang paling tahu tentang dirinya. Karena, kalau kita bertanya pada dirinya, pasti ia jawab: “Macam lo gak tahu saja saya.” (Dengan mata melotot tentunya. Ha.. ha…)

Selamat Berjuang Adik Sahabat Nusron Wahid.












Share This Post On
468 ad

Leave a Reply

%d bloggers like this: