Kolom M.U. Ginting: KONGRES BATALKAN VETO OBAMA

 

veto-1

 

 

Dunia berubah, karena kesedaran manusia berubah atau meningkat. Perubahan kesedaran itu adalah karena adanya perubahan teknik terutama di bidang informasi dan komunikasi. Perubahan teknik dan pengetahuan meningkat karena M.U. Gintingadanya perubahan peningkatan ekonomi tentunya. Ketika kontradiksi pokok dunia adalah antara Barat dan Timur di era perang dingin, apa yang benar dan salah ditentukan oleh kontradiksi itu. Di daerah dominasi Blok Timur, yang benar ialah yang sesuai dengan politik Timur. Sebaliknya, di daerah yang didominasi Barat, yang benar ialah yang memihak Barat.

Contohnya, pembunuhan orang Komunis atau orang kiri sebanyak 3 juta orang atau lebih di Indonesia dibenarkan ketika itu bagi dominasi Barat itu. Zaman berubah, kesedaran berubah, sekarang tidak bisa dibenarkan lagi, tak masuk akal lagi kalau orang tak bersalah dibantai begitu saja dan sebanyak itu pula.

Ketika terjadi teror pemboman WTC, tidak ada yang menuntut keadilan bagi korban WTC. Sekarang dituntut, dan Obama veto, tetapi vetonya dibatalkan oleh Kongres. Sekarang, rakyat menuntut keadilan lewat pengadilan terbuka dan sebagai terdakwa adalah satu negara yaitu Saudi Arab dengan UU JASTA (Justice Against Supporters of Terorrorism Act).

Pembantaian 3 juta orang lebih rakyat Indonesia 1965 adalah teror yang tak ada taranya atas kemanusiaan, atas rakyat dan negara Indonesia yang cinta damai itu. Siapa yang merekayasa teror 1965 ini tentu tidak susah menebaknya dilihat dari dokumen-dokumen dan bukti-bukti yang sudah banyak beredar di seluruh dunia, termasuk pengakuan dari pihak CIA dan agen-agen lain seperti dalam buku John Perkins EHM (Economic Hit Man). Sejalan dengan perubahan kesedaran itu, bukti-bukti, dokumen-dokumen dan EHM ini jadi aktual sekarang.

Teror pembantaian 3 juta orang itu bisa diangkat ke pengadillan sekarang ini. Penentang dalam soal ini akan susah untuk angkat bicara, apalagi mempertahankan kebenaran teror 3 juta itu.

Akhirnya, pada tahun 1989, sebelum kematiannya, Sarwo Edhie memberi pengakuan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa 3 juta orang tewas dalam pertumpahan darah ini.” (Wikipedia).

Sarwo Edhie adalah komandan pembantaian ketika itu. Tentu tidak ada yang lebih tahu selain Sarwo Edhie.

Tuntutan ini jugalah yang ditakuti oleh Obama dengan alasan “jika warga AS bisa menuntut sebuah negara luar, maka hal sebaliknya juga bisa dilakukan warga veto-2atau pemerintah negara lain terhadap AS” katanya. Alasan ini sudah berulang-ulang dikatakan oleh Obama.

Obama tentu melihat juga perubahan dan perkembangan situasi dunia dan kesedaran manusia, seperti halnya dengan vetonya yang dikentuti saja oleh Kongres, dan dari perubahan pikiran manusia soal terorisme itu sendiri. Alasan yang paling baik dan paling ‘tak bersalah’ baginya, ya itu saja, bahwa AS juga nanti bisa dituntut di negeri lain. Alasan untuk menuntut AS di negeri lain memang banyak sekali dan di banyak negeri pula. Obama mengerti soal itu. 

Perubahan dunia itu . . . perubahan, perubahan  . . . celakanya lagi . . . dia sendiri juga menganjurkan perubahan pada mula kampanye dan jabatannya, change, change, change . . .  katanya 8 tahun lalu. Sekarang perubahan itu datang di depan matanya sendiri, takut sendiri,  walaupun memahami.

Kalau di Indonesia korban teror 3 juta itu menuntut keadilan atau RUU model JASTA  tentu juga bisa jalan, tergantung seberapa banyak ahli hukum negeri ini nanti yang mau mencurahkan perhatiannya atas soal itu. Penentangan terhadap pengadilan ini akan sangat sedikit, karena yang dituntut bukan orang Indonesia atau pemerintah Indonesia.

Memang, sesuai dengan perubahan kesedaran manusia tadi, sudah masuk akal banyak orang (publik Indonesia dan dunia) kalau yang merekayasa teror 3 juta itu bukan orang Indonesia tetapi orang luar sesuai dengan dokumen-dokumen yang sudah bisa dipaparkan di atas meja (hijau) nanti.


Saudi Arab sebagai saksi utama

Kekuatiran atau ketakutan Obama soal tuntutan banyak orang dari banyak negara lain memang akan menjadi kenyataan terutama setelah ada nanti pengesahan RUU JASTA itu dan dimulainya nanti pengadilan terbuka, dengan Saudi Arab sebagai saksi utama. Obama nanti sudah bukan lagi penguasa Gedung Putih, karena itu dia ‘selamat’ dan bisa dikatakan merasa beruntung.

Terasa memang kesulitan luar biasa bagi Obama, sekiranya masih jadi presiden, mengubah dirinya atau kesedarannya menyesuaikan diri dengan perubahan kesedaran dunia itu. Susahnya lagi ialah, karena dia sendiri bukan orang bodoh soal ‘change’, dia mengerti, karena itu susah baginya kalau masih sebagai presiden.

Dia sudah mengerti apa yang dikatakan Presiden Roosevelt, soal siapa sesungguhnya yang memiliki pemerintahan AS yaitu ‘the finance element in the large centers’, dan juga sudah mendengar omongan akademisi seperti profesor dari  Tufts University Michael Glennon bilang bahwa dalam Pilpres AS: ‘Vote all you want. The secret government won’t change. The people we elect aren’t the ones calling the shots’.




Obama juga pastilah sudah membaca atau mendengar apa itu ‘deep state’ atau ‘double government’ atau ‘secret government’ di AS yang begitu gesit-gesitnya sekarang dikumandangkan oleh banyak akademisi AS maupun Canada. Tetapi Obama bukan presiden lagi. Dia bisa menonton saja apa yang terjadi di bawah kepresidenan yang lain, Clinton atau Trump. Tingkat kepandaian dan kesedaran kedua orang ini saya kira jauh di bawah Obama karena dia sekarang ini sudah mengerti semua, tetapi sudah tak bisa berbuat apa-apa bahkan dia saya pikir sudah banyak mengerti pada akhir-akhir tahun kekuasaannya.

Hillary Clinton adalah wakil ‘kiri lama’ meneruskan ‘multikulti’ dan Trump adalah wakil ‘kanan baru’ mewakili perkembangan kesedaran baru, anti multikulti. Trump adala seorang perwakilan nasionalis Amerika, dan suku putih Amerika, yang selama setengah abad multikulti tak pernah digubris nasibnya, baik dari Partai D maupun Partai R. Karena itu, sambutan terhadap Trump dari orang-orang yang ditinggalkan ini sangat luar biasa (kelas pekerja orang putih AS dan orang-orang putih AS yang masih sangat jauh dari pendidikan tinggi atau pendidikan umumnya).

Sekarang, tinggal 2 minggu ke Pilpres AS. Hillary dan Trump pada sibuk untuk memenangkan pemilihan bagi dirinya masing-masing. Membaca ‘Vote all you want. The secret government won’t change”, kedua orang ini tak urusan. Tetapi publik dan rakyat dunia sudah mulai urusan.








Share This Post On
468 ad

Leave a Reply

%d bloggers like this: