Kolom W. Wisnu Aji: SEBULAN TANPA AHOK, JAKARTA MULAI SEMRAWUT

Sungai Sentiong persis setahun lalu. Foto: Kompas.




Entah sebuah kebetulan atau Jakarta memang butuh sosok pemimpin seperti Ahok untuk menuntaskan masalah Jakarta yang multi kompleks. Sebulan tanpa Ahok, Jakarta mulai semrawut lagi. Jakarta rindu sosok kepemimpinan Ahok yang tegas dalam menuntaskan masalah Jakarta yang carut marut.

Ahok memang fenomenal tapi langkah aksinya mampu menuntaskan berbagai masalah Jakarta yang dulunya tidak kunjung tuntas. Ahok dianggap berani bersikap dalam memetakan solusi berbagai masalah krusial Jakarta.

Ketika ahok masih memimpin jadi Gubernur DKI Jakarta, banyak solusi yang sudah direalisasikan sebagai bukti kinerjanya sehingga mampu mengurangi beban masalah Jakarta yang bertumpukan. Persoalan sampah yang menyebabkan sungai meluap serta berdampak pada banjir Jakarta, secara pelan tapi pasti Ahok menguatkan langkah aksi pasukan oranye untuk bergerak menuntaskan problem sampah Jakarta yang selalu ada dan jadi momok di Jakarta.

Pasukan oranye merupakan simbolisasi Ahok hadir di tengah rakyat. Pasukan oranye mampu jadi bagian dari solusi dalam membangun konstruksi nilai budaya kebersihan bagi warga Jakarta. Pasukan oranye berhasil menunjukkan bukti bersihnya sungai-sungai serta lingkungan yang ada di Jakarta.

Bahkan pasukan oranye telah menjadi simbolisasi keberhasilan sebuah aksi apapun di Jakarta. Ketika aksi tersebut harus menunjukkan budaya bersih di tengah rakyat seperti contoh aksi Bela Islam 212 dan aksi kebhinekaan di Jakarta beberapa minggu yang lalu.

Di samping itu, Ahok juga berhasil membangun budaya birokrasi yang melayani dan bereaksi cepat, bukan budaya koruptif serta lamban seperti dulu. Birokrasi Jakarta telah berubah mindsetnya pasca Ahok mencoba memberi ketegasan pada para birokrat yang memiliki budaya usang yang cenderung koruptif.

Ahok juga dianggap mampu merubah berbagai hal berkaitan dengan ekonomi biaya tinggi alias Pungli di masyarakat; mulai dari ruang publik pelayanan birokrasi pada masyarakat hingga pelayanan zonasi parkir di ruang publik. Hasilnya, sistem lebih transparan dan akuntabel serta masyarakat merasa nyaman di bawah kepemimpinan Ahok.

Namun, pasca Ahok sebulan non aktif sebagai Gubernur DKI, untuk cuti kampanye, ternyata Jakarta mulai banyak kemunduran. Sebulan tanpa Ahok terasa Jakarta mulai semrawut. Ini dapat dilihat nyata buktinya di tengah rakyat Jakarta. Contoh riil mulai semrawutnya penanganan sampah di Jakarta sehingga seolah-olah sampah tak terurus di Jakarta adalah Sungai Sentiong dan sungai-singai lainnya mulai dipenuhi sampah yang dampaknya bisa menyebabkan banjir lagi di Jakarta.




Contoh lainnya pelayanan publik birokrasi Jakarta mulai tidak disiplin saat Ahok lagi non aktif. Ada kesan pelayanan publik di Jakarta kembali ke asalnya karena tidak ada sosok Ahok yang tegas memompa kedisiplinan birokrat pelayan publik. Bahkan, berkaitan dengan Pungli dan jeritan masalah parkir, dikeluhkan warga Jakarta. Seolah para preman dan mafia mulai berpesta pora kembali sejak ditinggalkan Ahok untuk cuti kampanye .

Jakarta ternyata tetap butuh sosok Ahok untuk kepemimpinan periode ke dua, agar Jakarta semakin tertib, nyaman dan disiplin dalam menyongsong perubahan besar. Ahok masih dibutuhkan untuk merubah berbagai hal yang jadi sarana penuntasan masalah Jakarta. Mulai dari penanganan sampah yang lebih terintegratif, penataan rumah kumuh yang lebih humanis serta beradab dan penanganan kemacetan melalui sistem transportasi massal yang modern serta terintegratif.

Untuk itu, saat ini, Jakarta masih butuh sosok Ahok yang tegas mewujudkan Jakarta yang modern, beradab serta terintegratif sistemik. Saatnya warga Jakarta menentukan pemimpinnya yang terbaik dan yang terbukti kinerjanya demi Jakarta yang mampu dibanggakan.

#SalamPencerahan

Dipublikasikan oleh :
CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMEN FOR PROGESSIF MOVEMENT (CS REFORM)

Share This Post On
468 ad

Leave a Reply

%d bloggers like this: