Pengetahuan Penyelamat Kemanusiaan (2): Terorisme dan Pecah Belah

 


ISIS yang dibentuk oleh Trio Obama-Clinton-Ford sebenarnya adalah pesanan dari The Secret Government AS atau kekuasaan finansial itu. Obama atau Clinton maupun Ford tidak masuk akal akan bikin ISIS untuk menjarahi triliunan-triliunan dolar dari sumber minyak Syria dan Irak. Ketiga orang ini tidak bisa menangani atau tidak berkepentingan menangani uang besar-besaran seperti itu, apalagi untuk mendominasi dunia membangun a New World Order.

Pendiri atau pembangun The New World Order (global hegemoy) jauh lebih perkasa dari Obama-Clinton-Ford. Gambaran situasinya barangkali lebih tepat seperti digambarkan oleh Prof. Chossudovsky dari Ottawa University bilang:  

“The so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA, The global war on terrorism is a fabrication, a big lie”

(Selengkapnya lihat di SINI)

 

Pernyataan Chossudovsky ini dalam soal The New World Order dan pernyataan Michael Glennon soal The secret government, keduanya membuktikan dan membenarkan pernyataan Presiden Roosevelt 1933, yaitu adanya organisasi kekuasaan yang sangat kuat (finansial) di belakang semua presiden AS yang terpilih secara resmi lewat pemilihan umum. Karena itu juga, sangatlah masuk akal kalau Panglima TNI belakangan bilang bahwa gerakan pecah belah di Indonesia datang dari AS dan Australia. Juga tidak diragukan ketika panglima itu mengatakan bahwa terorisme di Indonesia dibiayai terbanyak dari Australia, Malaysia dan Brunei.

Dari mana dan siapa yang membiayai semua gerakan terorisme ini sudah semakin jelas sekarang bagi publik dunia, terutama dari pengalaman pembentukan ISIS dan penjarahan triliunan dolar dari minyak Syria dan Irak. Biaya untuk bikin teror memang bisa dikirim atau dititipkan lewat negara mana saja yang bisa dipercayai atau yang telah jadi sekutu bagi the secret government, atau lewat siapa saja di negara mana saja, pastilah tidak begitu soal, karena duitnya ada, triliunan dolar itu.


Indonesia memang negeri Bhinneka

Kapolri Tito Karnavian juga dengan tegas menyatakan adanya gejala pemanfaatan gerakan 212 jadi aktifitas makar. Sikap tegas dan brilian dari Polri dan TNI terlihat sangat berjasa dalam menangani huru-hara pecah-belah yang terakhir di tanah air kita, yang kesemuanya termaktub dalam kontradiksi antara agama (Islam) dan kaum kafir ditambah lagi dengan persoalan suku/ kultur. Kontradiksi dan perbedaan ini tidak akan pernah hilang atau berhenti di negeri ini, karena Indonesia memang negeri Bhinneka dalam soal agama, suku, kultur, ras, juga daerah.

Share This Post On
468 ad

Leave a Reply

%d bloggers like this: