Karo Bukan Batak Sebagai Effortless Work Dan Effortless
Foto: Rudy Pinem[/caption] Hidup kita sebagai manusia sampai era ini masih didominasi oleh kepercayaan, atau semacam paradigma yang sangat kuat dan mendalam,…
Foto: Rudy Pinem[/caption]
Karo pada mulanya adalah manusia alamiah. Hidupnya sangat dekat dengan alam dan selalu pula dengan tanah dan hutannya yang sangat subur dan kaya. Kultur dan budayanya adalah yang tertua didunia, sudah 7400 tahun (lihat link http://www.setkab.go.id/nusantara-4750-tim-arkeologi-balar-temukan-fosil-berusia-7400-tahun-di-aceh-tengah.html ).
Karena itu, Karo bisa lebih dekat ke perkerjaan alamiah/ universum, lebih dekat ke pekerjaan effortless secara alamiah.
Di luar dugaan kita sama sekali adalah bahwa kita memancarkan sinar KARO BUKAN BATAK bisa dikatakan juga effortless , sebagai survival instinct (instink untuk bertahan hidup); kita hanya melakukan apa yang harus kita lakukan tanpa menentang atau memusuhi siapapun. Kita merasa tidak terbeban karena, bagi kita, itu ringan saja. Sangat memungkinkan kita mengerjakannya dengan santai saja, to turn work into play .
Kita mengatakan apa yang harus dikatakan bisa dengan effortless , karena tak ada tujuan merugikan atau memusuhi siapapun. Satu-satunya yang kita inginkan adalah menjelaskan dan mencerahkan siapa kita, atau jatidiri kita, sebagai satu suku diantara banyak suku bangsa di negeri kita. Pada dasarnya, kita hanya bikin pencerahan dan harapan. Dua kata ini dibutuhkan oleh semua suku, semua manusia, di dunia.
Kita “menulis apa yang harus ditulis” adalah juga effortless . Begitu juga dengan “buat apa yang harus diperbuat” bisa semuanya effortless. Tak ada maksud merugikan siapapun yang lain, tak ada beban.
Dasar yang kita pakai adalah dasar alamiah universal, kejujuran dan keadilan untuk semua, sesuai dengan pepatah dialektis Karo ’ sikuningen-kunigen radu megersing siagengen radu mbiring’ yang secara internasional berarti win-win solution . Begitu juga dalam persoalan lain seperti halnya untuk menjadi pemimpin (paradigma baru leadership ) sebagai salah satu arus perkembangan dunia, Karo, punya syarat yang cukup unik dan universal untuk menjadikannya sebagai pekerjaan effortless .
Bersamaan dengan perkembangan internet, Karo punya laboratorium besar sebagai sumber knowledge yang tak terbatas. Selalu ada kemungkinan yang lebih besar untuk mempelajari dan menyesuaikan sikap (attitudes ) dengan perbuatan (actions ). Dunia telah dibagi menurut peta ‘perasaan dan kultur’ (Moisi, emotion and culture, 2009) dan Karo, karena keunikannya, punya andil penyesuaian yang luar biasa sesuai dengan sifat alamiahnya dan universalnya (kesesuaian perkembangan EQ Karo dengan perkembangan EQ dunia).