← Beranda Budaya & Adat · Rab, 23 Okt · 3 mnt baca
Kolom Juara R. Ginting: Di Sora Sirulo edisi XV (Desember 2007: hal. 6), Ir. Budi K. Sinulingga menyebut sekilas acara pemberangkatan Djamin Gintings (alm.) ke Pakistan (1961) di de…
Seseorang lain yang sempat menyaksikan penarikan lige-lige itu menuturkan padaku baru-baru ini bahwa lige-lige berhenti di depan rumah Panglima Teritorial I dan kemudian memuat Panglima (saat itu Djamin Gintings) dan Nyonya (LT Djamin Gintings) beserta beberapa pejabat pemerintahan Sumut. Ratusan aron menariknya ke Lapangan Merdeka, katanya.
Lige-lige adalah kenderaan kebesaran Karo berbentuk mirip rumah si empat ayo bertingkat-tingkat terbuat dari kayu, beratap ijuk dan dilengkapi dengan beberapa roda kayu. Kenderaan bergerak ketika ditarik dengan tali secara beramai-ramai. Kebesaran lige-lige sedikit lebih rendah dari kalimbaban yang bentuknya mirip lige-lige tapi jumlah tingkatannya lebih banyak.
Membahas soal lige-lige dan kalimbaban memang menarik. Tapi, dalam kesempatan ini, bukan lige-lige dan tidak kalimbaban yang membuatku tertarik pada tulisan Sinulingga. Melainkan, hubungan antara Gubernuran Sumut dan Lapangan Merdeka di satu pihak dengan Padangbulan di pihak lain. Para peserta Kongres Internasional mengenai Pemanasan Global saat disuguhi penampilan musik, tari dan lagu-lagu Karo oleh Sanggar Seni Sirulo di Medan[/caption]
Gubernuran Sumut dan Lapangan Merdeka adalah titik-titik istimewa yang menghubungkan wilayah Propinsi Sumatera Utara dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di pihak lain, kawasan Padangbulan dimana Kampung Kabung juga termasuk di dalamnya, adalah serambi ( turé-turé ) Taneh Karo Simalem. Bayangkan NKRI sebagai sebuah kuta dan Taneh Karo adalah sebuah rumah adat yang terletak di kuta bernama NKRI.
Bila kita sudah membayangkan seperti itu, kita akan menangkap apa yang terkandung di dada warga Karo yang bergerak beramai-ramai menuju Lapangan Merdeka maupun Gubernuran Sumut saat itu. Pang ku tengah encidahken bana: “Énda Karo Ndai, turang-senina sebangsa dan setanah air! ”
Aku tidak melihatnya sebagai sebuah kecongkakan atau sekedar jegar-jegir . Itu pertanda Karo menerima diri sebagai bagian NKRI. Namun, tidak kembut berhadapan dengan saudara-saudarinya sebangsa dan setanah air. “ Énda Karo ndai , tak pernah ingkar janji sehidup semati,” demikian kudengar sayup-sayup degup jantung dan denyut nadi mereka. Degup yang terus berdegup di dada MS Kaban, Tifatul Sembiring, Serta Ginting, Sutradara Ginting, Putra Kaban; termasuk bas tentendu , dan di dadaku.
Tapi, mengapa sekarang ini, setiap ada orang Karo yang hendak maju ke titik-titik istimewa yang menghubungkan Taneh Karo dengan lapangan luas NKRI, langsung saja ada nada sumbang? Apakah karena kita mulai kecut dan kembut ertepuk di Lapangan Merdeka atau Gubernuran Sumut? Atau karena tokoh-tokoh Karo itu sendiri saling tuding?
Hingga pagi buta aku pernah bercengkerama dengan Putra Kaban di Medan. Kudengar dadanya berdegup menyerukan Karo énda ndai . Hingga pagi buta aku begadang dengan beberapa orang Karo lainnya, dada mereka berdegup tak kalah kencangnya menyerukan Karo énda ndai . Aku salut dengan semangat mereka, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk Karo. Aku masih salut ketika mereka saling tuding lewat diriku.
Apakah mereka seperti jering ras parira ? Tidak, kawan, pembaca yang mulia, mereka semua adalah puanglima Karo . Mereka meraung dan melolong. Dan, aku tau, bagaimana rasanya berada di garis depan.
Dukunganku, terhadap semua orang Karo yang berani menepuk dada menuju kancah nasional dan internasional. Aku tidak akan mendukung pengecut, terutama yang suka berpura-pura baik dan menuduh sesama Karo tak bernilai di kancah nasional maupun internasional.
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.