Kolom M.u. Ginting: Batak Dan Bukan
Preman-Terpelajar Karo Bersama Tumbuk Lada yang telah menjadi kecenderungan baru di kalangan pemuda Karo dalam mempertahankan jatidirinya. Model: Anez Sbasti…
Di bawah ini saya kutip dari berbagai website:
http://tanobatak.wordpress.com/2010/07/21/kenapa-harus-karo-bukan-batak/ Beberapa Pengertian Budaya:
Beberapa perkataan “Batak” nyaris ditemui di semua suku di Sumut. Di Pakpak Dairi berbunyi: ” Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn ”. Maksudnya adalah mmas batak dijadikan warisan ( homitan ) dibuat menjadi tepak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Mmas Batakn diartikan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia.
Di Karo dikenal upacara mbatak-mbataken ; yakni mengembalikan roh penjaga ( jinujung ) kepada seseorang. Seorang Karo yang hendak mendirikan rumah, juga melakukan ” Ibatakkenmin adah nda ”, yakni ritual meratakan tanah, agar rumah yang akan dibangun diberkahi.
Pada Simalungun, terdapat perkataan “Batak” antara lain ” Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon ”. Artinya, tinggikanlah benteng agar bagus sawah kita ini.
Di luar itu, di masyarakat Pilipina konon ada satu pulau yang bernama “Batac” (huruf �c� di belakang).
Konon pengertian kata “Batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Sejumlah kata yang sama ucap dan pengertiannya, juga ditemukan di pulau itu, seperti; ” mangan ” (makan), ” inong ” (inang), ” ulu ” (kepala), ” sangsang ” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya). KOMENTAR
Kutipan di atas (tanobatak wordpress) adalah bagian dari pengertian lama ’Batak’. Selebihnya (di bawah ini) adalah pengertian baru dalam pengetahuan baru dunia soal ’Batak’.
Menurut tanobatak wordpress ini, semua jadi Batak karena istilah ’batak’ ada pada semua suku-suku yang dibatakkan itu. Perlu juga agaknya ditambahkan satu pengertian ’batak’ lagi supaya lebih lengkap, yaitu dari kamus Karo Darwin Prinst, dimana ’batak’ artinya perampok atau orang yang mengembara sambil merampok.
Bahwa suku-suku lainnya seperti Simalungun, Pakpak, dan Mandailing telah begitu sering ada pengumuman global bahwa mereka bukan Batak, mungkin lebih penting untuk diketahui semua argumentasinya yang lebih masuk akal daripada persamaan beberapa kata yang ada pada semua suku seperti dicontohkan tanobatak wordpress.
Menurut professor yang orang Batak Bungaran Simanjuntak, asal usul orang Batak (’penunggang kuda’) datang dari Taiwan (Pilipina) sekitar 2500 tahun yang lalu. Orang Karo dan Gayo menurut penemuan terakhir adalah manusia dengan budaya tertua didunia yang pernah ditemukan dan sudah berumur 7400 th.http://www.setkab.go.id/nusantara-4750-tim-arkeologi-balar-temukan-fosil-berusia-7400-tahun-di-aceh-tengah.html
Jadi untuk Karo dan Gayo sudah jelas tak bisa dimasukkan ke Batak si ’penunggang kuda’. Umur sangat berbeda.
Mandailing Bukan Batak: Toba dan Mandailing banyak sekali persamaan kosa katanya, tetapi Mandailing Bukan Batak bisa terbaca di banyak site. http://doharharahap.blogspot.se/2011/03/mandailing-bukan-batak.html
’Simalungun Bukan Batak’, https://www.facebook.com/notes/brd-silalahi/simalungun-bukan-batak/169937849880347
Pakpak Bukan Batak, http://pakpakbharatblog.blogspot.se/2012/05/suku-pakpak-bukan-batak.html
Karo Bukan Batak, banyak sekali site-nya dan sedang rame di FB Jamburta Merga Silima.
Di antara orang Karo, Pakpak dan Simalungun ada yang mengatakan bahwa dengan pengertian baru Karo Bukan Batak atau Pakpak Bukan Batak atau Simalungun Bukan Batak, berarti ’menghina kami yang menganggap diri kami adalah bagian dari Batak’. Tetapi mereka ini sama sekali tak merasa menghina yang lain kalau dibatakkan atau dibilang bagian dari Batak.
Apakah di sini soal ’penghinaan’ atau soal jati-diri, integritas/selfrespect atau selfesteem? Kalau orang Karo, Pakpak, Simalungun berdiri sendiri sebagai etnis punya jatidiri dan integrity sendiri tak perlu etnis lain atau yang merasa dirinya bagian dari etnis lain ’merasa terhina’. Self-esteem, Integrity, Identity ada pada tiap etnis, tak bisa terpisah dari etnisnya. Acara menangguk ikan (Ndurung) di Tambak Beringin (Sugihen, Dataran Tinggi Karo) dalam menyongsong acara Kerja Tahun (Foto: Eka Prima)[/caption]