Hilangnya Kudin Taneh Dari ARISTON GINTING. JUHAR. Kudin taneh (periuk tanah) adalah sebuah karya nenek moyang kita sejak jaman dahulu kala. Tapi, sekarang ini, sungguh sulit menemukan…
ARISTON GINTING. JUHAR. Kudin taneh (periuk tanah) adalah sebuah karya nenek moyang kita sejak jaman dahulu kala. Tapi, sekarang ini, sungguh sulit menemukan hasil kerajinan tangan ini di Kabupaten Karo.
Di Desa Jaberneh (Kecamatan Juhar), pernah ada produksi kudin taneh sejak 1980an sampai awal tahun 2000. Saat itu, kudin taneh adalah salah satu penghasilan penting bagi warga desa itu.
Mereka menjual setiap kudin taneh dengan harga antara Rp 25.000 sampai Rp 60.000. Seorang penjual kudin taneh mampu menjual 15 sampai 20 buah per pekannya. Setiap harinya seorang pengrajin dapat menghasilkan 2 atau 3 kudin taneh .
Adanya produksi kudin taneh saat itu sangat membantu perekonomian warga desa setempat. Namun, kini, meningkatnya produksi alat memasak modern yang serba instan membuat penjualan kudin taneh menurun drastis. Menurunnya pesanan terhadap kudin taneh diikuti dengan matinya usaha perekonomian rakyat ini sehingga sulit menemukan kudin taneh di pasar-pasar Kabupaten Karo.
Sebenarnya, sebagian orang Karo masih membutuhkan kudin taneh untuk memasak, khususnya masakan-masakan tradisional Karo. Menurut beberapa orangtua di pedesaan Karo kepada Sora Sirulo, memasak di kudin taneh adalah suatu kenikmatan bagi mereka dengan rasanya yang khas dan gurih.
Namun, apa daya, sulitnya menemukan kudin taneh membuat mereka juga terpaksa tahan selera lama. // // //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.