Lau Simalem Terisolir: Anak-anak Belajar Hanya Dengan Lampu
Seorang bapak memperhatikan anak-anaknya belajar dengan menggunakan lampu teplok.[/caption] IMANUEL SITEPU. SIBOLANGIT. Di saat Pemkab Deliserdang menggaungk…
Akibat belum adanya listrik, setiap malam Lau Simalem layaknya dusun mati. Tak ada kegiatan bisa dijalankan karena tak adanya penerangan yang memadai. Untuk mengantisipasi binatang buas masuk ke dalam rumah pada malam hari, warga pun lebih memilih membangun rumah panggung (rumah berkolong).
Lebih riskan lagi, ketika anak-anak sekolah di dusun itu perlu belajar pada malam hari. Sangat menyedihkan melihat mereka duduk di lantai rumah sambil belajar dengan alat penerangan lampu teplok. Beruntung bagi warga yang memiliki genset sebagai pembangkit tenaga listrik. Dengan menggunakan genset tentu penerangan lebih memadai walau menambah besar pengeluaran membeli bahan bakar minyak. Bagaimana dengan kebanyakan keluarga yang tidak memiliki genset?
“Dengan lampu teplok sebagai alat penerangan satu-satunya, kami sangat kasihan melihat anak-anak kami belajar di malam hari. Siang hari mereka sudah letih ke sekolah berjalan kaki cukup jauh. Malam hari mereka belajar lagi dengan penerangan seadanya,” ujar Sinulingga sedih. pencaharian rata-rata bertani serta sebagian pengerajin gula aren, pembuat gambir dan keranjang[/two_third]
Sebelumnya, Lau Simalem merupakan satu desa dengan pimpinan kepala desa. Namun, sekitar tahun 1990, terjadi penciutan desa-desa di Kecamatan Sibolangit dan Dusun Lau Simalem berubah menjadi Dusun II Lau Simalem, Desa Ujung Deleng. Penghuni dusun ini ada sekitar 32 KK dengan mata pencaharian rata-rata bertani serta sebagian pengerajin gula aren, pembuat gambir dan keranjang. Selain itu, hasil pertanian beragam seperti coklat, salak, pisang dan lainnya.
Martin Ginting (45) mantan kepala desa di dusun itu sebelum penciutan, kepada Sora Sirulo mengatakan, sangat prihatin melihat kondisi Dusun II Lau Simalem dengan keterbatasan alat-alat dengan tenaga listrik yang semakin banyak saat ini digunakan oleh masyarakat luas. Untuk memasak nasi, sayuran dan merebus air hanya dapat dilakukan dengan menggunakan kayu bakar di samping menggunakan kompor gas yang juga terkadang sulit untuk mendapatkan bahan bakar gas karena sulitnya memasok ke dusun itu. Padahal, listrik sudah sangat perlu menjangkau Dusun II Lau Simalem guna menambah memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Warga berharap kepada Pemkab Deliserdang agar segera memberi perhatian kusus terhadap tempat tinggal mereka. Bagaimanapun juga, tanpa prasarana yang memadai, akan menghambat kemajuan dan perkembangan dusun itu.
Foto cover: Serasi Sinulingga bersama beberapa warga Lau Simalem. // //