Budaya · Ekonomi · Kesehatan · Lingkungan · Pariwisata · Pedesaan · Pendidikan··4 mnt baca
Menghitung Taneh Karo (bagian
Oleh: Penatar Perangin-angin Selama ini, saya mengharapkan ada fokus perhatian dari kita masyarakat Karo ke wilayah "Karo Singalor Lau". Menurutku, daerah in…
Oleh: Penatar Perangin-angin Selama ini, saya mengharapkan ada fokus perhatian dari kita masyarakat Karo ke wilayah "Karo Singalor Lau". Menurutku, daerah ini sangat rentan dijadikan 'komoditi politik' orang luar sehingga kita tidak boleh apatis.
Dalam hal ini, pertama, kita sebagai kelompok masyarakat di luar pemerintahan, seperti kita yang berkumpul di grup Jambur Merga Silima (JMS) ini, walau kita jumpa-jumpa jambur dunia maya, saya kira sudah waktunya membentuk organisasi semacam NGO di dunia nyata, sehingga organisasi tersebut memiliki AD/ART serta memiliki rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang.
Domain kita difokuskan pada permasalahan sosial dalam masyarakat, pemberdayaan lingkungan yang terarah, penghijauan kembali perbukitan yang selama ini rawan longsor dan banjir bandang, pengadaan air bersih, dan pembangunan infrastruktur untuk menunjang produksi hasil bumi yang menjadi mata pencaharian utama warga. Lembaga ini diharapkan dapat kita jadikan kontrol bagi pemerintah untuk betul-betul serius membangun apa yang menjadi rencana dan tujuan poitik yang pernah mereka sampaikan.
Kita berdayakan mahasiswa dan sarjana yang kita punya. Aku yakin kita bisa jika betul-betul lembaga ini bersih. Tetapi, jika dijadikan sebagi alat politik praktis, atau sumber cari uang, maka semua ini akan sia-sia. Setelah semua berjalan, selanjutnya kita fokuskan kepada dunia pendidikan.
Saya pernah ngobrol dengan anak-anak Sekolah Dasar di suatu desa di wilayah itu. Dalam obrolan kami, mereka bercerita kalau mereka sekolah hanyalah untuk bisa baca tulis dan bukan ada tujuan lain. Mereka tidak berpacu, karena sang pendidikpun memang tidak memacu mereka. Ada guru yg membawa kampil ke sekolah, memberi tugas lalu nyirih. Ini contoh budaya pendidikan yang keliru. Masuk tidak masuk tidak soal. Mereka hanya menunggu gaji. Parahnya lagi, Dinas Pendidikan bukan menempatkan guru yang punya kemampuan mendidik baik, malah sebaliknya, sehingga lama kelamaan wilayah ini menjadi tren daerah 'pembuangan'.
Bisa kita bayangkan, sebuah daerah bila menjadi momok bagi abdi negara. Apakah yang akan terjadi? Tentunya keterbelakangan, isolir dan akhirnya terlupakan.