← Beranda Budaya & Adat · Sen, 2 Feb · 3 mnt baca
Karo Yang Oleh: Plato Ginting (Yogyakarta) Beberapa tahun aku mengamati suasana musik di Jogja. Meski hanya mengamati dari kejauhan dan sesekali terlibat dalam beberap…
Ketika bertemu dengan salah satu penyanyi karo Usman Ginting di Salatiga, aku berbincang-bincang dengan beliau terkait penjualan albumnya di Taneh Karo. Aku terkejut ketika bang Usman mengatakan, ketika pembajakan belum merajalela dan belum ada youtube seperti sekarang, kita bisa menjual 50.000 keping CD, katanya. Angka ini terbilang fantastis, karena Shaggydog sendiri hanya menjual sebanyak 20.000 keping album perdananya. Itu terbilang besar untuk band Indie di Jogja.
Nah, yang menjadi inti dari tulisanku ini adalah. Mengapa para musisi Jogja bisa mengindonesia sedangkan musisi Karo tidak?
Mungkin ada orang yang akan mengatakan kalau lirik-lirik shaggydog itu memang mengindonesia, karena bahasa Indonesia. Menurutku, ini juga bukan alasan, karena Jogja Hip Hop Foundation yang lagunya berbahasa Jawa juga bisa eksis secara nasional setelah bisa eksis di Jogja. Atau contoh yang lebih gamblang adalah Viky Sianipar. Mengapa mereka bisa mengindonesia bahkan mendunia? Dalam istilahku, sipekitik banta[/one_fourth]
Menurutku pribadi, hal ini disebabkan oleh senimannya sendiri. Semangat apa yang mendasari seorang seniman ketika berkarya? Ketika semangat itu didasari oleh semangat menasional, maka kemungkinan karya itu juga bisa menasional. Sedangkan yang terjadi di Karo malah sebaliknya. Senimannya sendiri sudah memperkecil karya yang dihasilkannya. Dalam istilahku, sipekitik banta .
Ketika kita memberi label karya-karya kita sebagai karya yang ditujukan untuk orang-orang Karo saja, maka karya itu diterima oleh kalangan Karo saja. Bahayanya, niat untuk membuatnya lebih berkualitas pun menurun. Karena toh, pasarannya cuma orang-orang itu itu aja. Jadi, buat apa susah-susah mengemasnya secara rumit dan mahal.
Barangkali inilah yang menyebabkan musik kita menjadi seperti sekarang ini. Satu keping album dijual seharga Rp. 10.000 dengan kemasan yang apa adanya. Lebih murah dari sebungkus rokok.
Bisakah musik Karo menasional bahkan mendunia? Bisa, kalau kita membangun semangat itu. Bhkan bukan cuma musik, pagelaran-pagelaran budaya, tempat wisata dan lain sebagainya. //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.