Kisah Bersambung: Ginting Manik Mergana
Cuplikan dari penampilan teater rakyat SIRULO di Lubuk Pakam[/caption] Rasa Kehilangan Yang Terus Melanda Oleh: Bastanta P. Sembiring (Urung Senembah) [/one_…
* Setelah pemakaman Amir, beredar kabar kalau kejadian ini dilakukan oleh perompak untuk membeayai persenjataan Simbisa . Akan tetapi, jika ini perampokan, mengapa hanya Amir dan mengapa perhiasan yang dikenakan oleh Amir saat itu masih utuh? Tampaknya isue ini sengaja dihembuskan oleh pihak yang ingin mengadu domba sesama laskar pejuang. Amir diculik saat hendak kembali ke rumahnya pada malam kejadiaan itu. Tubuhnya penuh luka sayatan, tikaman, dan memar akibat pukulan benda tumpul. Wajahnya hampir tidak dikenali lagi. Sungguh perlakuan yang sangat keji. Manusia biasa tidak akan sanggup melakukannya walau kepada orang yang sangat dibenci sekalipun. Bahkan untuk hewan sekalipun. Tidak dapat terbayangkan bagaimana rasa sakit kala itu dialami Amir. Menerima setiap pukulan, tikaman, dan sayatan yang sangat sadis. Sebagai seorang sahabat, Ginting Manik sangat terluka hatinya atas kejadian yang menimpa sahabat baiknya sejak kecil. Dalam sebuah pertemuan rahasia, para kordinator pergerakan pejuang, Ginting Manik meminta waktu untuk khusus dapat berbicara di hadapan para perwakilan. Ginting Manik menerangkan secara ditail; baik posisi, kegiatan dan waktu, serta orang-orang yang bersama mereka saat bersama dengan Amir sebelum kejadian. Ini dilakukan untuk meredakan rasa saling curiga yang tampaknya mulai tumbuh antar kelompok pejuang. Tidak lupa, Ginting Manik menghimbau agar komunikasi antar kelompok dilakukan semakin intens, mengingat pergerakan Pemerintah dan Militer yang semakin agresif untuk memberantas kelompok-kelompok pejuang dengan banyak tipu daya dan politik pecah belah. Namun, tetap menjadi tanda tanya besar, mengapa harus Amir? Ginting Manik mencoba menjelaskan. Pertama, Amir adalah salah satu pengusaha pribumi yang cukup sukses saat itu dan memiliki hubungan dekat, baik oleh karena kekeluargaan, dagang, atau organisasi, dengan beberapa pimpinan pergerakan di Sumatera Timur. Ke dua, beberapa bulan lalu, dalam sebuah operasi, Veld Politie (Polisi Lapangan) berhasil menangkap beberapa Simbisa. Dua orang diantaranya diketahui bekerja di kongsi dagang yang dipimpin Amir. Dan ke tiga, Amir dan teman-temannya di kongsi dagang Poetra Karo – Deli sudah lama dicurigai turut membiyaai dan memasok persenjataan kepada para Simbisa , yang diselundupkan melalui perdagangan dengan pihak Penang. Alasan-alasan ini kemudian yang menguatkan dugaan kalau pembunuhan Amir didalangi oleh pihak pemerintah. Sedikit demi sedikit menggugurkan rasa saling curiga antara sesama laskar.
_ * * * Sekitar delapan bulan setelah pertemuan dengan kemberahen Sembiring Kembaren Mergana , Ginting Manik diundang oleh Nini Ginting dan Nini Karo ke kediaman Karo-karo Sitepu. “Uga nge sekali énda, Permain ?” tanya Nini Karo kepada Ginting Manik. Lagi katanya: “Adi beru Kembaren ndai enggo setahun aténa sirang ras perbulangena .” Ginting Manik tampak hanya terdiam saja. “Uga, lang é saja siulihi ?” tanya Nini Karo lagi kepada Ginting Manik. Kembali Ginting Manik hanya diam membisu. “Adi kuaakap, impal, siulihi ka ranan é ku beru Kembaren ndai. Labo lit salahna, ” kata Sitepu mergana turut dalam percakapan itu. Lagi kata Sitepu: “Adi nai banci kerna kitik denga impal oh kerina. Énda enggom mbelin kerina. Kuakap énggo mé banci ukurindu ka mulihi, impal .” “Umur é ngenca kari reh tuana, ngat, ” kata Nini Ginting menyambung kata Sitepu. Lanjutnya dengan bertanya: “Kai nari kin man timanken? Timai kita peduakaliken rintak kalak beru Kembaren oh ?” Sejujurnya, di dalam hati Ginting Manik yang paling dalam, masih tersimpan rasa cinta kepada beru Kembaren. Namun, dia tidak memiliki cukup daya untuk mengutarakan rasa itu. Ini dapat dibaca oleh orang-orang terdekatnya, sehingga mereka berusaha untuk mendekatkan kembali Ginting Manik dengan beru Kembaren. “Kuakap bagénda saja, ” sela Karo-karo Sitepu mergana . Katanya lagi: “Labo kuakap lit salahna dahindu turangku kami ndai. Adi uga kin kari keputusenna, é arih-arih kéna duanalah. Kai gia ningen, é ukur kénalah. Adi kin iakapndu cocok denga, ngata kam Kalimbubu. Labo énda ngajari kam, tapi bagi nina Iting ndai, lanaibo kuakap man timanken terdekahen. Umur énda ngé ngenca kari reh tuana. Pelau-laun piah peduakaliken kari pulah ka beru Kembaren oh, Kalimbubu .” Mereka pun memberi waktu kepada Ginting Manik untuk memikirkannya kembali, sebelum pertemuan yang telah diatur oleh Nini Ginting dengan keluarga Kembaren mergana tiba waktunya. BERSAMBUNG Sebelumnya: - Bagian 3: Merubah Jalan Hidup - Bagian 2: Mencari Jawaban - Bagian 1: Awal dari Segalanya // //