Kolom Alexander F. Meliala: Suku Karo Dan Kemerdekaan — Sorasirulo
← Beranda

Kolom Alexander F. Meliala: Suku Karo Dan Kemerdekaan

Pawai Dalam Rangka HUT RI Ke-69 di Kabanjahe (Foto: Kristiana Tarigan)[/caption] Seorang blogger bernama Erwin Tanjung pernah menerbitkan sebuah tulisan di b…

Kolom Alexander F. Meliala: Suku Karo Dan Kemerdekaan

Dengan kehadiran iring-iringan drumband dari masing-masing setiap sekolah di Kabupaten Karo saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, dapat dibayangkan betapa panjangnya parade 17 Agustus beriringan di sepanjang jalananan Kabupaten Karo, khususnya di ibukota kabupaten itu, Kabanjahe. Umumnya, setelah mengadakan upacara, parade drumband yang memanjang secara beriring-iringan itu baru selesai paling cepat hingga Pkl. 16.00 sore. Anak-anak semangat mengikuti rangkaian pawai HUT RI ke-69 di Kabanjahe (Foto: Kristiana Tarigan)[/caption]

Selanjutnya, adalah karena partisipasi masyarakat yang begitu besar untuk menyukseskan kegiatan 17 Agustus. Banyak orangtua tak segan-segan merogoh kantongnya lebih dalam untuk membiayai anak-anaknya tampil saat acara. Pembelian baju baru untuk tampil pawai, make up, dan asesoris lainnya. Bahkan, dapat dipastikan, setiap orangtua di Kabupaten Karo selalu punya keinginan agar anak-anaknya dapat terpilih ikut tampil saat acara HUT Kemerdekaan RI diselenggarakan. Walau harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak.

Alasan lainnya adalah bahwa Kabanjahe merupakan salah satu daerah di Indonesia yang selalu mengadakan pawai HUT Kemerdekaan sebanyak dua kali, yakni pada tanggal 14 atau 15 Agustus, dan 17 Agustus. Khusus pada tanggal 14 atau 15 Agustus diperuntukkan buat siswa PAUD, TK, dan siswa Sekolah Dasar. Pawai ini dilengkapi dengan iringan drumband masing-masing sekolah. Ini diselenggarakan lebih awal mengingat bila dilaksanakan satu hari pada 17 Agustus, maka pawai tidak akan selesai hingga malam hari.

Alasan ke empat, masyarakat dari berbagai pelosok desa di Kabupaten Karo akan berbondong-bodong memenuhui jalur pawai/parade yang dilewati oleh peserta pawai. Dengan demikian, kita akan melihat jalur yang dilewati para peserta pawai dipadati oleh masyarakat sejak Pukul 09.00 pagi. Terkadang masyarakat juga turut membawa kursi plastik untuk tempat duduknya. Pada pukul 10.00 pagi, seluruh jalur yang dilalui peserta pawai sudah dipenuhi masyarakat yang dengan sabar tetap menunggu dimulainnya kegiatan pawai.

Ke lima, para pedagang dadakan memenuhi jalur semua lintas jalan di inti kota. Mulai dari pedagang baju bekas, makanan, penjual buah-buahan dan sebagainya telah memasang tenda-tenda sejak tengah malam. Tak heran bila ruas-ruas jalan menjelang 17 Agustus telah dibooking dan dikapling dengan menulis nama-nama mereka dengan cat di ruas jalan.

Alasan ke enam, keramaian ini terus berlanjut sampai malam hari. Memang warga Taneh Karo Simalem benar-benar menikmati Hari Kemerdekaan. Apakah ini ada kaitannya dengan adanya tempat Rumah Singgah Proklamator Soekarno pada masa perjuangan dulu di Taneh Karo? //