Kolom M.u. Ginting:
Tadinya, kita mendengar sangat sering anti-immigrasi di Eropah dengan munculnya partai-partai nasionalis yang sering pula dijuluki dengan ultra kanan, kanan …
Dari segi kriminalitas, di mana banyak immigran di situ lebih banyak terjadi kejahatan. Ini juga kita bisa saksikan sendiri dengan membandingkan Tanah Karo yang masih lebih homogen kultur Karo dibandingkan dengan kriminalitas di daerah Deliserdang dimana sudah terlalu banyak pendatang bukan asli Karo, apalagi di Medan atau Jakarta.
Prof. Putnam bikin kesimpulan dimana banyak ragam etnis di situ semakin sedikit saling percaya sesama penduduk dan karena itu juga modal sosial jadi rendah dan peningkatan kemajuan terhambat karenanya.
Dari segi kerugian lain bagi penduduk local, seperti kekuasaan dan tanah subur pindah tangan ke migran pendatang seperti jelas terlihat di Pakpak Dairi atau Simalungun/ Siantar.
Perusakan lingkungan karena tak terjaganya ketertiban sopan santun kehormatan atas budaya lokal yang umumnya sangat menghormati alam.
Gerakan anti immigran di Afrika Selatan sekarang ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari gerakan besar dunia melikwidasi pengaruh negatif multikulturalisme, dan juga gerakan internasionalisme yang dipelopori oleh gerakan ’kiri’ dunia Abad 19 dan 20.
Abad 21 adalah abad Nasionalisme dan Ethnonasionalisme yang merupakan lanjutan dari Abad 18. Selama 2 abad gerakan ini tertidur dininabobokkan oleh Internasionalisme dan Multikulturalsime. // //