Kolom M.u. Ginting: Jokowi Dengan
Penampilan Sanggar Seni Sirulo di Hotel Danau Toba International, Medan.[/caption] Bahwa BIN ”tak banyak berikan informasi” adalah merupakan tanda perubahan …
Alasan ’untuk kepentingan negara’ seperti yang dikatakan Menlu Amerika John Kerry tak laku lagi sekarang ini. Orang-orang tak lagi percaya karena bertentangan dengan kepentingan kemanusiaan. Bagaimana bisa orang percaya kalau mencuri email rakyat Amerika atau pemimpin-pemimpin negara lain seperti PM Angela Merkel. Presiden SBY juga telefonnya disadap seenaknya oleh Amerika dengan alasan ’kepentingan negara dan rakyat (?). SBY bukan diktator seperti Polpot atau Soeharto.
”Politisi PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin mengatakan, sejak Jokowi menjabat Presiden, kinerja BIN belum terlihat maksimal dalam memberikan informasi kepada Jokowi. Dia katakan lagi, untuk menyelesaikan kasus KPK-Polri Jokowi butuh masukan dari BIN.” (medeka.com). //
Informasi soal KPK-Polri (kalaupun ada) yang belum dilaporkan ke Jokowi kemungkinan tak dikeluarkan apalagi kalau sifatnya bertentangan dengan ’kepentingan kemanusiaan’ (Snowden) tadi yang, dalam hal ini, adalah kepentingan rakyat untuk membasmi korupsi. Bisa juga ada dugaan kalau hal ini sudah memasuki ranah politik secara tertutup, seperti juga sengketa KPK-Polri yang politiknya selalu ditutup-tutupi.
BIN dan juga semua organisasi mata-mata rahasia semua negara dunia sedang dalam pergesekan dengan arus perkembangan dunia, terutama sangat bertentangan dengan perkembangan demokrasi, dialog, keterbukaan dan Transparansi. Semua ’rahasia penting negara’ pada masa lalu telah menjadi rahasia umum dalam Abad 21. // //