Kolom M.u. Ginting: Kbb
Antropolog dra. Karmila Kaban MA dalam sebuah pementasan Teater SIRULO di Berastagi[/caption] KBB (Karo Bukan Batak) sudah banyak yang mengikuti; baik yang m…
Dasar persatuan ini juga yang menimpa orang Karo di Karo Jahe yang akibatnya dianggap sebagai pendatang di 'Deliserdang'. Di sini, kekuasaan dan banyak tanah ulayat di tangan pendatang seperti juga terjadi pada orang Pakpak dan Simalungun. Di Karo Jahe ini, lingkungannya juga terus dirusak oleh pendatang. Hutan-hutan dan tanahnya yang sangat subur terus dirusak tiap hari. 'Hancurkan dan kuasai' merupakan taktik dan strategi ethnic competition di sini dipakai oleh pendatang yang berkuasa.
Peningkatan pengetahuan kita tentang etnis-etnis ini bisa terlihat juga dari apa yang disimpulkan oleh Robinson Ginting Munthe (RGM).
"Dalam kenyataan, setelah sekitar 9 tahun saya terlibat dalam sosialisasi KBB ini, kadang lebih mudah berhadapan (berargumen/berdebat) dengan orang Batak yang mengganggap orang Karo adalah Batak Karo ketimbang berargumen dengan orang Karo sendiri. Lebih gerah 'digerogoti' orang sendiri daripada orang lain," kata RGM, seorang aktivis KBB.
Kesimpulan ini dia dapatkan dari diskusi/debat selama 9 tahun ini. Betul sekali memang kesimpulannya, karena didasari pikiran-pikiran ilmiah soal way of thinking orang Karo yang introvert dan orang Batak yang extrovert. bilang kalau orang Karo hanya ''menyalah-nyalahkan orang[/one_fourth]
Sudah banyak juga pengetahuan kita bertambah soal way of thinking kedua macam tipe manusia ini yang, dalam hal ini, diwakili oleh suku Karo dan suku Batak. Orang Batak bisa dikatakan dalam berdebat 'sangat ringan', karena 'kai pe belasina' , tak mendalami soal, seperti bilang kalau orang Karo hanya ''menyalah-nyalahkan orang Batak, orang Karo rasis, primordial, separatis, memecah persatuan dan sebagainya dan sebagainya.
Orang Batak mengatakan terus terang apa di hatinya dikeluarkan saja. Jangan diharapkan argumentasi ilmiah. Kalau orang Karo datang dengan argumentasi ilmiah, merekapun mundur teratur atau mengakui saja kesalahannya. Ini tak ada bagi orang Karo dalam berargumentasi. Karena itu, masuk akal kalau lebih gerah 'digerogoti' orang sendiri seperti disimpulkan oleh RGM. Sosiolog drs. Salmen Sembiring dalam sebuah pementasan teater SIRULO di Berastagi[/caption]