Kolom M.u. Ginting: Kbb Tak Untuk — Sorasirulo
← Beranda

Kolom M.u. Ginting: Kbb Tak Untuk

Sanggar Sirulo melukis secara live di atas pentas diiriingi musik tradisional, penari latar, vokalis dan pelukis sendiri melakukan gerakan-gerakan tari sambi…

Karo masih belum, tetapi sudah beralih di daerah Karo Deliserdang. Di situ bupati dan camat-camat bahkan sampai kepala desa adalah pendatang Batak. Orang Batak sangat tinggi mobilisasi politik dan organisasinya. Di Karo ada satu organisasi ekonomi orang Batak yang dikelola sangat rapi, yaitu CU Sondang Nauli meliputi 17 kecamatan Karo, Dairi dan Deliserdang.

Organisasi sangat penting bagi gerakan kompetisi etnis orang Batak dan justru ini di pusat daerah kultur Karo. Sekretarisnnya dibikin orang Karo, sebagai fenomena 'Karo jadi ketua' di masa silam. tak memprediksi tujuan utama ethnic competition[/one_fourth]

Di Simalungun dan Pakpak Dairi mereka sudah selesai kompetisinya, tinggal mempertahankan dan mengembangkan kekuasaan politik yang sudah diraih. Salah satu taktik terpenting bagi orang Batak tadinya ialah dengan pembatakan, membatakkan orang Pakpak dan Simalungun, tetapi kedua suku ini diam saja karena tak memprediksi tujuan utama ethnic competition. Dengan politik 'sama-sama Batak' tanah dibagi-bagi dan kekuasaan diambil sepenuhnya. Kita masih ingat politik 'satu nusa satu bangsa' di masa fasis Orba. Tanah dan hutan orang Dayak dirampok dan dikuasai dan akhirnya . . . .

Kompetisi akan terus. Karo harus mempelajari jangan sampai bernasib seperti Pakpak dan Simalungun. Tanpa mempelajari dan antisipasi dini, nasib Karo sudah pasti juga begitu. KBB adalah cara strategis mutlak penting dalam antisipsi nasib menyedihkan PS (Pakpak Simalungun).

"Variation in ethnic mobilization relates to intergroup struggles over scarce resources, .. . . that social and spatial relations within each city shaped the contours of perceived competition and subsequent ethnic organization in ways that were not always predictable through observation of conventional proxies of competition." (David Cunningham, penulis teori kompetisi etnis).

Pakpak dan Simalungun tidak pernah memprediksi proses kehilangan kekuasaan dan daerah mereka sejak dini. Dalam era globalisasi lebih ditekankan lagi oleh Erik Lane dalam bukunya "Globalization and Politics: Promises and Dangers" menulis:

"The focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture."

Kelihatannya Pakpak dan Simalungun sudah terlambat lebih dari setengah Abad mempelajari isi buku ini. Tetapi bagi orang Karo masih ada waktu dan harus mendalami ethnic competition dengan seksama dan ilmiah. Dinamika ethnic competition harus dimanfaatkan sehingga bisa mendorong perubahan dan perkembangan bersama, tetapi bukan dengan menyembunyikan kompetisi etnis. Integritas identitas primordial tak menghalangi persahabatan kita dengan orang lain[/one_fourth]

Kalau kita tidak gamang lagi atas identitas primordialnya dalam berpolitik. Itu pertanda kemajuan, bukan kemunduran. Bukan pula kompromi atau sikap akomodatif sesaat untuk kepentingan Pemilu. Identitas primordial tak mungkin disembunyikan selama kita berhubungan dengan orang lain. Integritas identitas primordial tak menghalangi persahabatan kita dengan orang lain. Orang cenderung lebih yakin dan percaya kepada orang dengan integritas pribadi yang jelas ketimbang abu-abu, apalagi yang tersembunyi (atau sengaja ditutup-tutupi karena sesuatu hal). Lagipula, apa sih yang tersembunyi dalam dunia yang serba terbuka sekarang ini?

"Mari berani maju dengan integritas jatidiri yang jelas dan kuat," kata Robinson Ginting Munthe. // //