Kolom M.u. Ginting: Lagi Tentang Mobilisasi Dan
Kalau dulu Abad 20 ada demo yang dimobilisasi, pakai duit atau tidak, kesedaran atau tidak, masyarakat tak begitu peduli. Menjadi bahan pembicaraan kalau ada…
Partisipasi juga tak bisa lepas dari keterbukaan dengan alasan dan argumentasi ilmiah yang meyakinkan banyak orang. Contoh gagasan/ ide yang menonjol dan aktual sekarang ialah Rvolusi Mental Jokowi dan 3 formula Ahok dalam menjalankan pemerintahan yaitu pertama: pecat, ke dua: pecat dan ke tiga: pecat. Dalam ide atau gagasan kedua orang ini tak ada yang perlu dirahasiakan atau digelapkan. Semua terbuka dan transparan, dan itu mugkin karena era internet sekarang dan juga memungkinkan partisipasi jutaan orang seluruh pelosok Tanah Air dan juga dunia. Contoh di masyarakat Karo ialah sikap dan tindakan konkrit HMKI (Himpunan Masyarakat Karo Indonesia) dalam melaksanakan Karo Festival 2015 di Medan, sebagai pencerahan dan emansipasi kultur Karo. Gagasan pencerahan KBB adalah contoh lainnya di masyarakat Karo sebagai contoh konkret emansipasi pikiran Karo dari keterikatan kolonial soal pembatakan suku-suku tertentu termasuk suku Karo yang sudah dibatakkan oleh kolonial Belanda sejak kedatangan Belanda ke Sumatra, dalam rangka mengadu domba dan menguasai penduduk pedalaman Sumatra. Belenggu pembatakan ini menghalangi kebebasan bergerak, kebebasan berpikir dan kebebasan mencipta. Orang Karo sudah mulai membebaskan dirinya dari belenggu lama ini. Hidup tanpa belenggu dan keterikatan kesukuan dari suku lain maupun dari kekuasaan kolonial adalah sangat indah bagi tiap suku negeri ini. Itulah kebebasan kultural dalam Bhineka Tunggal Ika.
Kembali ke demo bayaran tadi, demo era Reformasi. Siapa yang dibayar itu?