Kolom M.u. Ginting: Suara Dari Korban — Sorasirulo
← Beranda

Kolom M.u. Ginting: Suara Dari Korban

Penampilan kelompok teater SIRULO di festivsal Teater Rakyat Sumatera Utara mewakili Kota Medan[/caption] Ibu Australia ini menyatakan suara hatinya karena k…

Kolom M.u. Ginting: Suara Dari Korban

Sangat tak memadai jumlah duit yang dikasih Australia ke tsunami kalau dibandingkan dengan biaya yang sangat lebih besar dalam memerangi gerakan pelumpuhan dan pembinasaan atas remaja dan rakyat Indonesia oleh orang-orang tipe ‘Bali Nine’. Kesengsaraan yang diakibatkannya tak akan mungkin berkurang tanpa menempuh hukuman mati untuk mengurangi jumlah musuh dalam perang ini. Kalau dipenjarakan seumur hidup, mereka bekerja dari penjara pula. Dengan duit, mereka akan terus lebih banyak kekuaaannya dan lebih banyak lagi duitnya, karena sumbernya semakin banyak tak terkendali dengan kebebasan bergerak model ‘Bali Nine’.

Satu-satunya jalan mengurangi ‘Bali Nine’ serta menghentikan tambahan kekuasaannya dan modalnya yang semakin besar secara global ialah dengan mengurangi ‘serdadunya’ melalui hukuman mati. Pengalaman seluruh dunia ialah bahwa dengan hukuman penjara mereka bukan tambah berkurang tetapi semakin banyak direkrut, dan tambah terus orangnya, karena duitnya tambah terus. Mereka ini masih bisa meluaskan kekuasaannya di negara tanpa hukuman mati atau juga di beberapa negara bagian USA.

Selain itu, Neil juga memberi nasihat kepada orangtua Andrew Chan dan Myuran Sukumaran untuk merelakan kepergian anaknya. Bagi dia, orangtua kedua gembong narkoba itu masih lebih beruntung daripada dirinya.

“Mereka masih bisa mengucapkan selamat tinggal, sedangkan aku tidak,” tandas Neil.

Ya, memang ibu kedua gembong narkoba itu masih lebih beruntung, masih bisa bilang ‘selamat tinggal’ dibandingkan ibu anak 17 tahun itu yang tak sempat bilang ‘selamat tinggal’.

“Siapa yang tahu, ada berapa banyak nyawa yang akan terenggut jika mereka (gembong narkoba Bali Nine) tidak tertangkap di Bali,” imbuh dia.

“Mereka adalah penjahat yang seolah-olah dijadikan pahlawan,” ujar Neal.

Kelihatannya, kalau menjadikan penjahat ini seolah-olah jadi pahlawan berarti juga bikin kejahatan baru yang lebih tak bisa diampuni. // //