← Beranda Budaya & Adat · Kolom · Sab, 19 Sep · 2 mnt baca
Kolom Paulus Jepe Ginting: Tradisi 'situngkat Galuhna' Dalam Pilkada Ada satu tradisi di Karo bernama Situngkat Galuhna yang diartikan menopang anggota keluarga atau kerabat atau kelompok sendiri dalam persaingan dengan orang …
Ada satu tradisi di Karo bernama Situngkat Galuhna yang diartikan menopang anggota keluarga atau kerabat atau kelompok sendiri dalam persaingan dengan orang lain dalam usaha, jabatan, kedudukan, kepemimpinan kelompok, kepemimpinan sosial, gereja dan sejenisnya. Harafiahnya istilah Situngkat Galuhna berarti ‘masing-masing menopang batang pisangnya sendiri’. Untuk batas dan lingkup tertentu tradisi ini tidak ada yang salah, baik secara konsep maupun kandungan nilainya. Tetapi, untuk cakupan seluas kepemimpinan publik/ bupati Kabupaten Karo, agaknya kurang tepat diberlakukan.
Konsep ini membuka peluang terjadinya pembelahan masyarakat secara merga , wilayah, agama, dialek, bahkan sektor ekonomi dalam masyarakat seperti pedagang, petani, buruh, seniman, pekerja seni, dll.
Di samping itu, tradisi Situngkat Galuhna menutup peluang kompetisi fair dalam memperoleh seorang bupati yang mampu melintas batas sekat-sekat yang ditimbulkannya. Bisa kita bayangkan, calon si A ditilik dari berbagai segi dan sudut pandang tidak layak jadi bupati. Namun, karena tradisi Situngkat Galuhna, dia tetap dicalonkan dan, karena mobilisasi massa dengan berbagai cara, besar kemungkinan dia memenangkan pemilihan. //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.