Kolom Salmen Kembaren: Frozen Culture — Sorasirulo
← Beranda

Kolom Salmen Kembaren: Frozen Culture

Karo Festival 2015 di Lapangan Merdeka, Medan.[/caption] Akhir-akhir ini, identitas kekaroan semakin sering diperbincangkan. Ada tiga event maha dahsyat yang…

Kolom Salmen Kembaren: Frozen Culture

Ketika beralih ke gedung pemerintahan maka Melayu dan Batak mendominasi. Warna khas Melayu mendominasi yakni hijau kuning, sampai-sampai pot bunga di pembatas jalan. Kalau ornament-ornamen maka Melayu dan Batak juga.

Mungkin anda akan menyangkal bahwa ada berkharakter asli Medan atau Karo, namun sejauh pandangan mata saya dan anda maka tidaklah mendominasi. Kerja Tahun Medan 2015[/caption] Frozen Culture (Yola G.) merupakan keadaan dimana para migrant suatu etnis begitu melestarikan budayanya sedang etnis asli di daerahnya telah bergeser meninggalkan budaya tersebut. Saya tidak sedang ingin membuat emosi kita menjadi meluap. Sebagai perbandingan, dalam Karo Festival misalnya, sebisa mungin panitia ingin menampilkan budaya-budaya Karo yang sudah sangat jarang dipertunjukkan.

Lain halnya dengan kerja tahun di Gugung misalnya, selain hanya menampilkan “landek aron dan perkolong-kolong ” apa lagi seni yang bisa anda lihat selain itu? Belum lagi di Deliserdang dan Langkat yang kebanyakan desanya tidak lagi merayakan kerja tahun . Atau berubah menjadi landek penceng atau lebih tertarik kibod bongkar di daerah perkebunan.

Selain itu beberapa budaya Karo yang sedang sangat gencar adalah hidupnya kembali catur Karo. Di manakah paling intens kegiatan ini dilangsungkan?

Mungkin jawaban kita bersama adalah di Medan. Penguatan ini juga didasari oleh mahasiswa perantau ke Medan. Bukan di Tigabinanga atau Tigajuhar misalnya yang gencar menguatkan permainan ini. Malah yang terjadi sebaliknya, desa-desa mulai meninggalkan permainan tradisional dan beralih ke permainan teknologi yang bersifat individu. Keadaan ini juga merupakan bagian dari kebekuan budaya itu sendiri. Sanggar Seni Sirulo mencoba memecah kebekuan/ kekakuan pesta tahunan di desa-desa Karo dengan menampilkan seni pertunjukan jenis baru yang diangkat dari seni kuno Karo oleh koreografer/ sutradara Juara R. Ginting. Lihat juga video di bawah bagaimana Juara R. Ginting mengkombinasikan seni pop remaja dengan musik klasik Karo.[/caption]

Saya kurang begitu yakin bahwa penyelenggara ketiga event besar yang saya maksudkan tersebut adalah asli warga Medan. Maksud saya adalah mereka keturuanan warga asli Medan adalah warga keturuan dari kerajaan Serbanaman, Lau Cih, Amparen Perak dan sekitarnya. Mereka adalah perantau dari Gugung, Deliserdang, Singalorlau ataupun Langkat yang bertemu semuanya di Medan. Dalam arti ide itu bukan dari asli Medan, sedangkan mereka yang perantau ke Medan ingin menguatkan kekaroan Medan.

Inilah bentuk kebekuan itu. Kita selayaknya mengapresiasi ketiga event besar ini, karena merupakan tonggak sejarah bagi kekaroan. Ratusan kilo meter dari Kota Medan kita harus melihat orang-orang Karo yang mulai meninggalkan budaya Karo itu sendiri dan sendi kehidupannya lebih banyak disentuh pergerakan dunia.

Jika boleh saya tambahkan, dalam hal ini orang Karo Bingei misalnya, lima tahun lagi akan kehilangan gendang bingei di wilayah aslinya. Sedangkan para cendekiawan berbicara tentang pembangunan. Karenanya pembangunan Karo harus holistik dalam arti membangun tidak hanya memajukan secara ekonomi melainkan bermental Karo. Gerakan penguatan Karo juga harus digencarkan di berbagai sendi kehidupan Karo. //