Pijer Podi (2): Motto Suku — Sorasirulo
← Beranda

Pijer Podi (2): Motto Suku

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan) 4 merga yang menempati 4 jabu suki di rumah adat Karo berhubungan satu sama lain sebagai Sembuyak Rumah (Bena Kayu), Anak…

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan) 4 merga yang menempati 4 jabu suki di rumah adat Karo berhubungan satu sama lain sebagai Sembuyak Rumah (Bena Kayu), Anak Beru Rumah (Ujung Kayu), Kalimbubu Rumah (Lepar Bena Kayu), dan Senina Rumah (Lepar Ujung Kayu). Sembuyak dan Senina harus dari 2 urung yang berbeda sehingga mereka juga dari merga yang berbeda pula (Foto: Juara R. Ginting) [/caption] Semboyan ataupun motto yang diciptakan oleh satu komunitas, ataupun dijulukkan oleh orang-orang luar, tentunya memperhatikan aspek internal dari komunitas tersebut. Sebagai contoh, julukan Bumi Turang untuk Taneh Karo ataupun pijer podi sebagai motto dari Kabupaten Karo. Mari kita merenung sejenak. Dapatkah kita katakan pijer podi adalah motto pemersatu Suku Karo sejak dahulu hingga sekarang dan juga untuk hari esok?

Coba kita perhatikan sangkep nggeluh Kalak Karo”, yakni: Merga Silima, Tegun Siempat, Tutur Siwaluh, dan Perkade-kaden Sisepuluhdua. Sangkep nggeluh ini telah dimiliki setiap orang Karo ataupun yang telah dikarokan sejak dahulu.

Artinya, tidak ada orang Karo atau yang telah dikarokan yang tidak terangkul di dalam sangkep nggeluh ini. Begitu kita dilahirkan sebagai orang Karo atau dikarokan, maka kita telah berada di dalam rangkulannya. Kita setuju dasar dari tatanan sosial Suku Karo adalah sangkep siempat ataupun tegun/ terpuk siempat ; 1. Sembuyak, 2. Anak Beru, 3. Kalimbubu, dan 4. Senina. [/box]

Kita ambil satu contoh aplikasinya pada runggu (rapat) pada hajatan/ upacara adat, misalnya. Setiap orang Karo ataupun yang dikarokan akan mengalami semua posisi tersebut. Harus kuh (lengkap) sangkep nggeluh siempat ini. Jika salah satu dari keempat tiang ini tidak hadir, maka bangunan akan miring bahkan bisa runtuh. Demikian juga dalam runggu, jika salah satu tegun (kelompok) tidak ada, maka runggu menurut adat Karo tidak bisa dilangsungkan. Tidak percaya? kita mulai saja runggu ini sebab ....[/one_fourth]