← Beranda Budaya & Adat · Sab, 18 Apr · 3 mnt baca
World Heritage Day Dengan JUARA R. GINTING. LEIDEN. Kemarin , adalah World Heritage Day (Hari Warisan Dunia). Dalam rangka mendukung World Heritage Day ini, seluruh museum di Belanda …
Setelah acara perkenalan ringkas, ketiga penari langsung menampilkan tarian Legong Kuntul. Menurut Bu Bulantrisna, Legong Kuntul termasuk jenis Legong non-dramatik yang menggambarkan keanggunan burung bangau di tengah sawah. Ketiga penari sungguh menampilkan keanggunan burung bangau. Dari sisi penonton, kita merasakan suasana yang teduh dan tenggelam dalam keheningan gerak tubuh gemulai serta raut muka dari para penari.
Setelah mendemonstrasikan tarian ini, Bu Bulantrisna mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama mencoba Legong Kuntul. Awalnya, para peserta diajari posisi dasar tubuh penari Legong gaya Ubud yang, menurut Bu Bulantrisna, sedikit lain dengan gaya Denpasar.
“Pinggul ditonggekkan, dada membusung dan dagu mendongak,” katanya menjelaskan lekuk tubuh yang mesti ditampilkan seorang penari Legong gaya Ubud.
Tarian ini menggunakan kipas yang membantu kesan dinamik dari tarian tapi di saat tertentu dipergunakan melukiskan paruh dari burung bangau. Ciri burung bangau juga dibuat kentara ketika sesekali para penari mengangkat salah satu kakinya bagai burung bangau berdiri satu kaki.
Menarikan tari Legong ternyata tidak mudah. Para peserta yang sebagian telah belajar menari Jawa dari Dr. Clara Brakel merasa kewalahan mengikuti permintaan Bu Bulantrisna terutama dalam menonggekkan pinggul sambil membusungkan dada dan mendongakkan dagu.
Menurut Bu Bulantrisna, ada kontras utama antara tari Jawa dengan tari Bali.
“Tari Jawa lebih meditatif. Semua yang dari luar dibawa perlahan ke dalam diri seperti di dalam meditasi, sedangkan tari Bali sebaliknya, lebih ekspresif. Semua dari dalam diri dikeluarkan secara lebih demonstratif,” jelasnya.
Dua penari, Novy dan Cecile, berada di depan sebagai contoh sedangkan Bu Bulantrisna berkeliling memberikan instruksi serta mengkoreksi gerakan para peserta workshop.
Semua peserta merasa puas dengan workshop ini. Ini mereka katakana kepada Sora Sirulo saat berbincang-bincang di kantin Universitas Leiden usai workshop. Salah seorang mahasiswi asal Indonesia yang sedang studi di Universitas Leiden berkeininan melanjutkan belajar tari Bali nanti setelah menyelesaikan studi di Belanda.
Ada satu hal yang unik bagi Sora Sirulo ketika berbincang-bincang dengan salah seorang penari, Novy. Novy ternyata warga negara Indonesia keturunan tionghoa. Ibu dan ayahnya adalah orang Tionghoa. Semasih anak-anak, ibunya menghantarkannya belajar tari Bali di Jakarta. Dia menekuni tari ini hingga kelas 1 SMA, tapi kemudian meninggalkannya sebentar karena perkembangan usia memasuki masa puber. Beberapa tahun kemudian dia kembali merindukan tarian Bali dan selanjutnya menekuninya lagi hingga sekarang. // //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.