Bedah Buku Urung Senembah: Urung Itu Nyata Dan Karo — Sorasirulo
← Beranda

Bedah Buku Urung Senembah: Urung Itu Nyata Dan Karo

Permaisuri (kemberahen) dari Raja Urung Senembah sedang menyanyikan lagu Gurindam 12. Repertoar dari 12 lagu sangat penting bagi masyarakat Melayu di Deli ma…

Pada kesempatan ini dihadirkan juga 2 orang pembicara, yaitu Dra. Ratna MS dan Drs. Wara Sinuhaji MHum serta moderator Dr. Suprayitno MHum. Kedua pembicara mengatakan bahwa buku ini merupakan salah satu bukti kuat akan kejayaan dan keperkasaan Suku Karo.

"Buku ini sangat penting, sebelumnya tidak ada buku sejarah kerajaan di Sumatera Utara ini yang dituliskan secara lengkap. Hari ini Wan Chaidir telah membuktikan bahwa sejarah itu dapat dituliskan dengan lengkap," kata Wara Sinuhaji.

Begitu pula dengan Dra. Ratna MS dan moderator Dr. Suprayitno yang mengatakan bahwa buku ini adalah sebuah buku yang sangat penting, dimana selama ini sejarah Urung Senembah belum banyak dikenal orang luas.

"Semoga kehadiran buku ini dapat melecut semangat para Pemangku Adat Kerajaan dan Kesultanan yang ada di Sumatera, khususnya di wilayah Raja Berempat," kata mereka.

Pada saat sesi diskusi, Drs.Wara Sinuhaji yang merupakan salah satu pembicara mengatakan bahwa Senembah merupakan kerajaan dari Suku Karo dan bukan bagian dari Batak. Wara beranggapan Batak hanyalah penyebutan di masa Kolonial, dan Suku Karo bukan Bagian dari Batak. Hal ini dikatakan Wara Sinuhaji saat menjawab pertanyaan dari salah satu tamu undangan, dimana tamu tersebut menganggap Kerajaan Urung Senembah adalah salah satu kerajaan di Suku Batak Sub-etnik Karo.

Acara ini juga diselingi oleh penampilan seni tradisional dari Suku Karo dan Melayu dan dihadiri sekitar 200 tamu undangan.

Pengemasan buku ini dikerjakan oleh Pemimpin Redaksi SORA SIRULO (Ita Apulina Tarigan) dibantu oleh dua anggota redaksi (Jebta B. Stepu dan Bastanta P. Sembiring). Refleksi-refleksi juga diberikan oleh para pengelola SORA SIRULO: Refleksi Etnografi dari Juara R. Ginting (Pemimpin Umum), refleksi historis dari Ita Apulina Tarigan (Pemimpin Redaksi), dan refleksi media sosial dari Edi Sembiring (kolumnis).