← Beranda Budaya & Adat · Min, 29 Mei · 2 mnt baca
Budaya Kambing Oleh: Genesis Sembiring (Taiwan) Saya sangat senang memperhatikan perilaku Balita. Mengapa? Perilaku alami itu sering memberi saya banyak inspirasi. Beberapa…
Itulah bujuk sang ayah.
Perilaku sang ayah ini benar-benar memberiku inspirasi baru. Secara tidak sengaja, sang ayah sudah membentuk kepribadiaan sang anak. Kepribadiaan apa? Mari kita analisa.
Balita tersebut terpeleset bukan karena kucing. Melainkan karena kelalaiannya dalam melangkah. Jelas tidak ada hubungannya dengan kucing. Kucing tidak melakukan apa-apa. Tapi, mengapa kucing disalahkan?
Secara tidak langsung, sang ayah sudah mengajarkan Balita tersebut untuk mencari kambing hitam. Secara tidak sengaja, sang ayah mengajarkan anak untuk tidak mengakui kesalahannya. Jangan-jangan, hal ini menjadi penyebab, kita sangat sulit untuk mengakui kesalahan.
Dalam bukunya, Lehman mendefinisikan budaya sebagai kumpulan beberapa pengalaman hidup yang ada pada sekelompok masyarakat tertentu. Pengalaman hidup yang dimaksud bisa berupa kepercayaan, perilaku, dan gaya hidup orang-orang dalam suatu masyarakat. //
Dari penjelasan Lehman, perilaku sang ayah bisa menjadi kebiasaan atau perilaku sang anak di masa depan. Wah, ternyata perilaku kita sekarang buah dari kebiasaan yang ditanamkan orangtua kita.
Maka dari itu, mulai sekarang, ada baiknya kita lebih berhati-hati dalam memberikan perilaku atau respon kepada Balita. Setiap ucapan atau perilaku yang kita berikan akan menjadi pembelajaran bagi anak. Sehingga menentukan pola pikir, sikap dan kebiasaannya di masa depan. // //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.