Guru Beru Kemit Akan Pimpin Erpangir Ku Lau — Sorasirulo
← Beranda

Guru Beru Kemit Akan Pimpin Erpangir Ku Lau

Lau Debuk-debuk[/caption] LORETA KARO SEKALI. MEDAN. Setelah beraudiensi ke Kepala BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam), pada hari yang sama , Pan…

Bu Kemit adalah salah seorang diantara masih banyak dukun Karo di Kota Medan yang jasanya sering diminta untuk melaksanakan berbagai ritual Karo khususnya dalam rangka penyembuhan. Beru Kemit saat memulai sebuah ritual mandi keramas di Lau Debuk-debuk. Foto: ITA APULINA TARIGAN.[/caption]

Jumlah dukun Karo meningkat drastis sejak diadakannya ritual erpangir di Lau Debuk-debuk pada tahun 1967. Sebagaimana dipaparkan oleh antropolog Juara R. Ginting dalam tulisannya yang berjudul "Hinduism in Karo Society ", ritual ini diadakan terkait peresmian tempat upacara Jamburta Ras, Berastagi, dan sekaligus peresmian organisasi bernama Balai Pustaka Adat Merga Silima. Sebagai dukun utama dalam ritual itu adalah pecatur legendaris Narsar (Pa Kantur) Purba yang saat itu sedang naik daun karena baru saja Dr. Max Euwe dari Belanda menjadi Juara Dunia Catur. Pa Kantur naik daun karena dia pernah menahan remise Max Euwe dalam sebuah pertandingan.

Sebagian besar ibu-ibu yang menjadi pemain utama acara erpangir itu adalah bekas pasien dari Pa Kantur yang dia sembuhkan melalui ritual petampeken jenujung , yatu dengan menjadikan pasiennya sebagai seorang dukun baru.

Ledakan jumlah dukun baru ini dapat dikatakan sebagai gerakan kembali ke tradisi yang besar sekali pengaruhnya hingga sekarang membuat Karo sebagai suku yang tradisinya paling bertahan di Sumut meski orang-orang Karo sebagian besar sudah Protestan, Katolik, Islam, dan Hindu.

Desertasi Mary M. Steedly yang berjudul Hanging Without A Rope, menjadi salah satu diantara 20 desertasi terbaik di Amerika saat itu, sangat memfokus persoalan ibu-ibu ini yang kemudian menjadi penggerak kembalinya Karo ke tradisi lama. Ini merupakan rentetetan peristiwa berhentinya ekspor sayur mayur ke Malaysia akibat Ganyang Malaysia, G30S 1965, dan adanya kampanye besar-besaran Dewan Gereja-geraja Indonesia (DGI) di Kuala (Langkat), Kabanjahe, dan Tigabinanga. Mary M. Steedly nantinya menjadi profesor Antropologi di Universitas Harvard, Amerika Serikat.