Jeruk Karo Bukan Lagi — Sorasirulo
← Beranda

Jeruk Karo Bukan Lagi

Oleh: Ir. Usaha B. Barus (Kabanjahe) Pada tahun 90-an sampai tahun 2010, tanaman jeruk Karo merupakan tanaman primadona di Kabupaten Karo. Ketika terjadi kri…

Jeruk Karo Bukan Lagi

Oleh: Ir. Usaha B. Barus (Kabanjahe)

Pada tahun 90-an sampai tahun 2010, tanaman jeruk Karo merupakan tanaman primadona di Kabupaten Karo. Ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1998 seakan tidak berpengaruh di daerah “Bumi Turang” ini karena peran komoditas tanaman jeruk membuat geliat perekonomian tetap berjalan dengan baiknya. Namun, sejak tahun 2011 dengan mengganasnya serangan hama lalat buah (Bactrocera sp.) pada tanaman jeruk di daerah ini membuat petani jeruk banyak yang bangkrut sehingga sangat mempengaruhi jalannya perekonomian masyarakat secara keseluruhan.

Pada tahun 2010 luas tanaman jeruk yang berproduksi di Kabupaten Karo seluas 10.000 Ha, dengan produktifitas 30.000 kg/Ha/Thn, harga jual rata-rata Rp. 5.000/kg sementara biaya produksi hanya sebesar Rp. 2.000/kg. Semenjak mengganasnya serangan hama lalat buah setiap tahunnya luasan tanaman jeruk yang dipelihara semakin berkurang sampai tahun 2016 ini yang bertahan hanya sekitar 20% saja dan yang masih bertahan dengan produksi 10.000 s/d 15.000 kg/Ha/ Thn dan harga jual rata-rata masih seputaran Rp. 5.000/kg. Itupun dengan biaya produksi yang sangat tinggi (Rp. 4.000/ kg) untuk mengatasi serangan hama tersebut. Dari data tersebut di atas, maka perputaran uang di tingkat petani jeruk hilang sekitar Rp. 1,15 T setiap tahunnya. Itu membuat perekonomian di daerah ini secara keseluruhan menjadi lesu. Tanaman Jeruk Karo saat ini bukan lagi menjadi primadona, bahkan sudah menjadi momok yang sangat menakutkan bagaikan Harimau yang menerkam tuannya sendiri. Kini, sebahagian besar petani jeruk sudah mulai beralih menanam tanaman kopi Arabica di sela-sela tanaman jeruk mereka yang sudah meranggas. Namun, kejayaan tanaman jeruk belum bisa ditandingi oleh tanaman kopi ini.