Kolom Aletheia Veritas: — Sorasirulo
← Beranda

Kolom Aletheia Veritas:

Ini foto saya di Gereja Anglikan di Kota Aberdeen, Skotlandia.[/caption] Di usia 19 tahun, saya berkenalan dengan Filsafat pertama kalinya. Kala itu, saya me…

Setelah ‘mengenal’ Sartre dan de Beauvoir, saya melanjutkan ‘petualangan Filsafat’ lainnya. Saya pun ‘berjumpa’ dengan Friedrich Wilhelm Nietzsche yang lagi-lagi melalui buku terjemahan berjudul ‘Ecce Homo’. Dengan tokoh yang satu ini, saya sarankan anda harus berhati-hati membacanya (hehehe..).

Setelah Nietzsche, saya berkenalan dengan Søren Aabye Kierkegaard, seorang filsuf Denmark. Kemudian lanjut dengan Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman. Beruntunglah akhirnya gagasan-gagasan kedua filsuf ini telah ditulis dengan bernas dan luar biasa oleh orang Indonesia yang dididik a la Jesuit.

‘Heidegger dan Mistik Keseharian, Suatu Pengantar Menuju Sein Und Zeit’, adalah judul karya yang ditulis oleh F. Budi Hardiman, sementara ‘Kierkeegard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri’, ditulis oleh seorang pastor Jesuit bernama Thomas Hidya Tjaya. Saya ingin berterimakasih kepada Franz-Magnis Suseno, seorang profesor kelahiran Jerman dan seorang pastor Jesuit yang begitu brilian merangkum dan menyederhanakan perjalanan historis Filsafat Barat, dari klasik sampai postmodern.

Jika ditanya siapakah para filsuf yang paling berpengaruh untuk saya, maka jawabannya: Jean Paul-Sartre, Simone de Beauvoir, Friedrich Wilhelm Nietzsche, Søren Aabye Kierkegaard, dan Martin Heidegger. Filsuf-filsuf yang lain (bagi saya) hanya ‘catatan kaki’ saja (hihihi…)

Lantas, apakah saya dulunya sekolah bidang Filsafat? Tidak sama sekali. Membaca Filsafat hanya untuk ‘merayakan kehidupan’ saja. Saya tidak ‘mencari nafkah’ dari belajar atau lebih tepatnya membaca Filsafat. Tapi harus saya akui, dengan membaca Filsafat pikiran kita lebih kritis, tajam dan kaya.

Di atas semuanya, membaca telah memberi saya banyak harapan yang satu-persatu mulai terwujud.

Anak-anak muda, mari membaca!