← Beranda Kolom · Sen, 28 Mar · 4 mnt baca
Kolom Darwono Tuan Guru: Ahok Jilat Ludah Sendiri Karena Edan! Ada partai yang lebih mementingkan dukungan kepada Ahok dan siap kehilangan kadernya! Partai ini justru mengintimidasi kadernya untuk mundur dari parta…
Ahok yang tidak terpilih pada Pemilihan Gubernur Provinsi Bangka Belitung mendapatkan promosi yang sangat menguntungkan dengan dibawa Gerindra ke Jakarta untuk disandingkan dengan Cagub DKI dari partai besar PDI Perjuangan, sehingga berhasil menjadi DKI 2. Dengan promosi Jokowi menjadi presiden, Ahok mendapat durian runtuh naik menjadi DKI 1. Meski banyak kalangan yang keberatan ia memimpin DKI terkait aqidah dari sebagain kaum muslimin yang meyakini bahwa pemimpin harus dari kalangan kaum seiman.
Dengan demikian, Ahok naik menjadi Wagub dan kemudian Gubernur DKI paling tidak secara institusi kepartaian atas jasa dua partai politik; yakni Gerindra dan PDI Perjuangan. Sudah selayaknya sebagai pihak yang dipercaya oleh kedua partai itu, harus menjalankan amanah kepemimpinannya secara baik. Namun, dengan "menanjaknya nama Ahok", Ahok seolah menjalankan kepemimpinan DKI 1 adalah menjalankan aktivitasnya sendiri, tidak terkait dengan amanah kepartaian. Bahkan dengan "congongnya" Ahok justru menampar partai-partai pengususngnya dengan ungkapan "Partai tidak mensejahterakan rakyat", ungkapan itu diartikan sebagai deparpolisasi yang dilakukan oleh Ahok.
Seiring dengan berjalannya waktu, dan banyak pihak yang mengetahui bukti mengapa Ahok berani dengan apa yang dilakukan, dan siapa di balik itu semua, menjadikan arus balik dukungan dari mendukung ke Ahok ke melupakan Ahok, atau mendukung calon lain. Lampu redup teman Ahok makin terlihat dengan indikasi booth-booth yang didirikan di mall-mall terlihat kurang mendapat sambutan yanag diharapkan.` Kita dapat melihat di sosial media, hari-hari ini banyak diupload form-form dukungan tunggal, dan sepinya "counter Teman Ahok" dari pengunjung (penulis amati dari twitter dan facebook). Keredupan ini tentu saja membuat Ahok yang tipikal emasional menjadi panik. //
Kepanikan Ahok ditunjukan dengan berbagai manuver yang Ahok lakukan dengan mendatangi berbagai partai politik, yang sesungguhnya langkah itu merupakan"jilat ludah sendiri", meskipun disertai dengan argumentasi apologis bahwa Ahok tidak bermaksud deparpolisasi. Sudah barang tentu dengan kondisi Ahok yang sangat membutuhkan dukungan dari partai politik, maka partai politik pun memiliki bargaining position yang menguntungkan. Oleh karena itu, istilah mahar ratusan milyar bagi "oknum partai politik" sangat mungkin dilakukan, dan itu sangat menggiurkan. Sudah barang tentu oknum-oknum parpol yang mata duitan siap melakukan apa saja.
Sudah barang tentu, keberanian memberikan mahar ratusan milyar atau deal-deal tertentu kepada oknum partai politik untuk mendukungnya harus dilakukan dari pihak Ahok. Perhitungan investasi politik tentu sudah dilakukan dengan detail sehingga berani mengambil langkah itu, oknum parpol juga, namun bagi parpol sendiri langkah seperti itu adalah langkah bunuh diri. Jelas rakyat makin cerdas, yang tidak mungkin menutup mata dengan kongkalingkong yang terjadi.
Apalagi dengan ketidakkonsistenan Ahok sendiri pada apa yang diucapkan, rakyat jelas tidak akan percaya pada apa yang Ahok ucapkan, maupun janjikan. Sekali lacur ke ujian selama hidup orang tak percaya. //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.