Kolom Darwono Tuan Guru: Hikmah Hardiknas Bagi — Sorasirulo
← Beranda

Kolom Darwono Tuan Guru: Hikmah Hardiknas Bagi

Hardiknas, tentu tidak hanya bermakna penyelenggaraan upacara di sekolah-sekolah dan instansi-instansi. Hari Pendidikan Nasional bagi bangsa Indonesia tentun…

Kolom Darwono Tuan Guru: Hikmah Hardiknas Bagi

Masyarakat terdidik tentunya direflesikan dengan teraplikasikannya nilai-nilai pendidikan, semua hal yang mendidik dalam kehidupan masyarakat. Kejujuran, kita aplikasikana dalam kehidupan bermasyarakat. Jika 1 kg gram adalah 1.000 gram, maka harus tepat 1.000 gram, tidak boleh 999,99 gram. Kedisiplinan mengikuti aturan, ya harus sesuai aturan tersebut, seperti ketika kita menghadapi sebuah segitiga siku-siku, maka aturan penyelesaiannya adalah sesuai theorema phytagores, bukan dengan menggunakan theorema pitaloka.

Dalam berhubungan dengan masyarakat, ya harus mencerminkan sebagaimana sebuah ikatan kima terbentuk, melalui kesadaran yang lebih memberi, sebagaimana atom-atom yang memiliki kelebihan elektron memberikannya kepada atom-atom yang cenderung kekurangan elektron. Dengan proses inilah sebuah ikatan dan kesetabilan dalam bentuk senyawa atau molekul terbentuk.

Inti dari hikmah peringatan Hardiknas adalah kita kembali "menghisab" diri kita sendiri sejujur-jujurnya. Sudahkah nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan oleh para guru, ustadz, ulama, romo, dan siapapun yang memberikan "pelita" kita gunakan untuk menempuh jalan hidup kita? Atau, apakah kita tetap melangkah dengan berbagai kegelapan kita, dengan berbagai ketidaktahuan kita?

Sebagai bangsa, nilai pendidikan yang harus kita pertanyakan adalah apakah kita sudah disiplin berjalan sesuai dalil/ aturan yang seharusnya. Apakah kita sudah menjalankan amanat Proklamasi, nilai-nilai konstitusi, dana dasar falsafah bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika?

Demikian juga dengan cara pandang/ paradigma kita dalam kehidupan. Apakah cara pandang kita sesuai dengan wawasan Nusantara? //

Oleh karena pendidikan Indonesia pada hakekatnya adalah membina manusia Indonesia seutuhnya, maka kita perlu menanyakan apakah kita sudah menjadi manusia Indonesia seutuhnya? Manusia yang berketuhanan, manusia berprikemanusiaan, yang berpersatuan, bermusyawarah, dan berkeadilan? Ataukah kita hanyalah insan separoh Indonesia, separoh Amerika? Separoh Indonesia, separoh Eropa, Arab, Yahudi ataukah kita manusia separoh serigala dengan homo homini lupusnya?

Nyalakan pelita, dan lihatlah diri kita secara jelas. Bercerminlah secara jujur, adakah belang, bopeng atau albino menodai di wajah indah Indonesia kita yang penuh harmoni, yang memancarkan pesona Timur yang adi luhung, ramah dan mempesona?

Jika memang masih ada berbagai noda, ada goresan alfa, ada bopeng-bopeng yang tak seharusnya, maka pendidikan pun mengajarkan segeralah diperbaiki, segeralah lakukan remidi, sebagaimana guru-guru kita yang bijak selalu memberikan kesempatan untuk perbaikan. Dengan tekad kita semua melakukan perbaikan, dan menghilangkan semua noda, kita bisa berjalan beriringan dalam sebuah kekuatan besar masyarakat Indonesia yang terdidik. An Educated Society, yang beradab, yang berperan serta menciptakan ketertiban dunia, yang berdasar kemerdekaan , perdamaian abadi dan keadilan sosial. // //