Kolom M.u. Ginting: Cara — Sorasirulo
← Beranda

Kolom M.u. Ginting: Cara

Dalam merehabilitasi pecandu narkoba, ada psikoterapi yang membangun kesadaran dari dalam. Namun, semua tergantung niat dan keinginan si pengguna untuk sembu…

"Namun, apabila upaya yang dilakukan seluruh elemen, seperti Polri dan BNN tak berjalan mulus, dirinya menyarankan Presiden Joko Widodo turun langsung dalam pemberantasan narkoba di Indonesia, seperti halnya yang dilakukan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte," kata Kepala Departemen Pengabdian dan Pelayanan Masyarakat DPP Granat (Gerakan Anti Narkoba), Brigjen Pol (Purn) Simson Sugiarto.

Inilah usul yang masuk akal, sama halnya dengan pemikiran Kepala BNN untuk menterapkan cara Duterte. Karena, memang hanya itu saja jalan yang masih ada bagi masyarakat dunia untuk keluar dari dilema narkoba.

Narkoba, Teror dan Korupsi juga tak terpisahkan satu sama lain, karena ketiganya diprakarsai oleh kekuatan luar yang mau mengacau negeri kita. Kekuatan dari Global Hegemony untuk mencaplok kekuasaan di banyak negeri, terutama negeri berkembang yang kaya akan SDA seperti Indonesia.

Narkoba juga banyak accessorinya seperti, Judi, miras, pelacuran/ HIV-AIDS, begal, geng motor, pelecehan sexual termasuk pelecehan anak-anak dari pihak gay. Malah anak-anak ini sering dibunuh juga setelah dilecehkan secara sexual.

Jangan ngomong terapi lagilah, kalau sudah sejauh ini dan sudah setengah abad pula berjalan tanpa ada perbaikan, tetapi malah semakin ganas dan buas tanpa perikemanusiaan. Simson mengatakan, apa pun persoalan yang terjadi dalam pemberantasan narkoba di Indonesia, seluruh pihak harus ikut andil. Tak hanya BNN, namun juga Polri dan masyarakat.

Betul memang, seluruh masyarakat harus ikut andil. Begitulah dilakukan di Filipina, dimana masyarakat setempat diarahkan berpartisipasi, karena mereka tahu betul siapa bandit-bandit narkoba dan segala macam kriminal lainnya yang berada disekitar tempat kediaman mereka.

Bandit dan kriminal ini tak bisa sembunyi dari penglihatan rakyat banyak.