Kolom M.u. Ginting: Kepribadian
Foto: Darwono Tuan guru[/caption] Saya pikir Kapolri sangat bijak dalam menanggapi demo hari ini. Peningkatan kesadaran masyarakat sudah jauh lebih tinggi di…
Foto: Darwono Tuan guru[/caption]
Saya pikir Kapolri sangat bijak dalam menanggapi demo hari ini. Peningkatan kesadaran masyarakat sudah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kesadaran masyarakat Tahun 1965 dimana langsung saja orang-orang ambil parang dan bunuh 3 juta orang dengan propaganda ‘murahan’.
Apa yang telah merusak nurani bangsa kita selama abad lalu dan sebelumnya ketika era kolonial? Keserakahan penjajah serta Greed and Power dari Barat yang telah menjangkiti bangsa kita. The Idolatry of Money, kata Paus Fransiskus dalam banyak ceramah dan pidatonya di banyak negeri abad 21. “ehind all this pain, death and destruction there is the stench of what Basil of Caesarea called ‘the dung of the devil’. An unfettered pursuit of money rules. The service of the common good is left behind. Once capital becomes an idol and guides people’s decisions, once greed for money presides over the entire socioeconomic system, it ruins society, it condemns and enslaves men and women, it destroys human fraternity, it sets people against one another and, as we clearly see, it even puts at risk our common home.” http://fortune.com/
Inilah sebab utama perusak jati diri dan hati nurani leluhur kita sejak era kolonial sampai hari ini (4/11). Kita tidak percaya kalau sudah ada perubahan nurani bangsa kita itu sebelum demo 4/11 itu. Tetapi ketertiban demo itu telah membuktikan perubahan besar itu sudah terjadi. Bangsa kita telah kembali ke kepribadian leluhurnya meninggalkan kepribadian asing selama tiga setengah abad penjajahan dan lebih dari setengah abad kemerdekaan dengan masuknya multikulti, radikalisme dan terorisme ulah ideologi The Idolatry of Money itu.