Kolom M.u. Ginting: Pesan Pendiri — Sorasirulo
← Beranda

Kolom M.u. Ginting: Pesan Pendiri

Pendiri bangsa . . . pejuang kemerdekaan nation Indonesia ini, yang sudah dengan suka rela mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan, demi harapan membahagi…

Setelah merdeka, datang kembali kekuatan pemecah belah itu. Rasanya tidak pernah berhenti, sampai detik ini, seperti dalam bentrokan Demo 411, atau peristiwa tanggal 6/12 pesta Natalan di Bandung yang dibubarkan oleh satu Ormas tertentu.

“Massa merangsek masuk ke ruang auditorium dan membubarkan jemaat yang sedang menyanyikan kidung di atas panggung,” dimana setelah itu anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Diah Pitaloka mengingatkan pesan pendiri bangsa.

“Persatuan dan kekompakan adalah modal dasar supaya kita tidak tertinggal dari negara-negara tetangga,” katanya sebagaimana dirilis Merdeka.com [ Rabu 7/12].

Ke mana persatuan dan solidaritas sesama kita, yang pernah ada dan begitu kuat ketika kita berjuang mengusir penjajah, maupun tradisi mulia leluhur kita yang sudah ratusan tahun itu?

Heran juga memang, atau tidak perlu heran … marilah kita saling hantam saja sepanjang masa, dan hidup dalam pertengkaran dan saling mematikan terus menerus selama kita masih hidup. Juga jangan lupa mengajarkan kepada anak-anak kita, generasi berikutnya untuk melanjutkan hidup saling menghancurkan di kalangan berbeda agama atau suku atau ras, atau perbedaan apa saja yang bisa dijadikan pertengkaran dan saling bunuh.

Betul memang, nasihat itulah yang benar dan tepat jadi pedoman hidup kita di negeri ini. Mulailah dari sekarang!

Dari segi lain, apalah artinya kalau saya bilang pedoman/ nasihat itu tidak benar kalau kenyataannya benar?! Apalah artinya kita ramai-ramai mengingatkan nasihat bagus ‘pesan pendiri bangsa’ kalau dalam kenyataan yang diingat dan dijalankan ialah sebaliknya; perpecahan dan konflik kekerasan terhadap yang berbeda agama, suku atau ras?

Mungkinkah kita memikirkan cara/ pedoman lain?