Kolom Telah Purba: Revolusi Mental Di
Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku harus menangis membayangkan Taneh Karoku. Bagaimana tidak, mengingat nasib saudaraku di pengungsian, di tenda-tenda p…
Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku harus menangis membayangkan Taneh Karoku. Bagaimana tidak, mengingat nasib saudaraku di pengungsian, di tenda-tenda para pengungsi di desa Terong Peren sana. Mengingat gejolak, kisruh, dan ruwet serta rumitnya masalah lahan Siosar yang saling klaim, saling serang, saling tolak.
Mengingat sarana prasarana Kota Berastagi yang kurang diperhatikan. Mengingat air bersih di kotaku yang sulit didapat. Mengingat semrawutnya Pusat Pasar Kabanjahe dengan parkir liarnya. Mengingat ancaman lahar dingin yang menggantung di punggung Sinabung.
Melihat pegawai Pemkab yang berkeliaran di jam kerja, peredaran Narkoba yang konon katanya dikendalikan oknum berseragam. Melihat begitu maraknya orang membeli kupon Togel, menyuap oknum PNS agar bisa mendapat pekerjaan. Mendengar petani yang dihadiahkan bibit jagung gratis, namun disuruh bayar juga.