← Beranda Kolom · Jum, 14 Okt · 3 mnt baca
Kolom W. Wisnu Aji: Fenomena Ahok Dan Lemahnya Dialog Sekitar seminggu ini energi bangsa tersedot dengan munculnya "dugaan penistaan agama" yang dilakukan Ahok, fenomena yang awalnya biasa saja menjadi heboh set…
Fenomena Ahok seolah menjadi seksi untuk dibenturkan karena berkaitan dengan issue sensitif agama yang merupakan agama mayoritas rakyat Indonesia. Penggorengan issue agama akan mudah tersulut di setiap momen Pilkada bahkan Pilpres.
Agama yang seharusnya diletakkan sebagai katalisator terhadap produktivitas demokrasi seolah menjadi alat yang super seksi untuk membenturkan berbagai kepentingan meraih kekuasaan dalam Pilkada. Begitu resistensinya issue agama membuat kita merenung lebih jauh, mungkinkah ini dikarenakan lemahnya dialog antar agama, ataukah kita memang terdoktrin oleh kepentingan primordial masing-masing agama dalam eksistensinya di negara Pancasila?
Kalau kita merujuk konsepsi Samuel Huntington dalam bukunya "Benturan Antar Peradaban", diramalkan akan terjadi benturan atau pertarungan antar idiologi dan agama dalam perebutan eksistensi di era penuh persaingan, Mungkinkah fenomena Ahok termasuk di dalam ramalan tersebut?
Maka, menyikapi fenomena tersebut, diperlukan solusi permanen untuk menuntaskan persoalan-persoalan prinsipil dalam membangun eksistensi agama.
Dalam konteks tersebut, diperlukan intensitas kembali dialog antar agama yang mampu meredam kegalauan dan pengkotakan sekat agama dalam bingkai negara Pancasila. Persoalan-persoalan prinsipil yang dapat jadi alat benturan antar agama harus mampu terkomunikasikan secara massif, sehingga agama tidak jadi alat penyulut benturan tapi agama harus jadi sarana produktif membangun demokrasi yang berperadaban.
Agama harus mampu menjadi katalisator dalam perjuangan nilai kemanusiaan berkeadilan di era demokrasi, dan agama harus menjadi contoh penguat iklim demokrasi di negara Pancasila.
Mari, demi suksesnya peradaban demokrasi di Pilkada 2017, sudah saatnya menurunkan egosentris primordial agama untuk bisa saling dialog menguatkan agama sebagai kepentingan sarana membangun produktifitas demokrasi berperadaban. Sudah saatnya fenomena Ahok dijadikan refleksi bersama untuk penguatan sistem demokrasi berperadaban sekaligus untuk menguji kesaktian Pancasila, sehingga mampu jadi contoh nyata dalam membangun sistem negara demokrasi demi kepentingan kemajuan bangsa ke depannya.
Mari kembalikan tujuan kontestasi Pilkada DKI tanpa issue SARA. Sudah saatnya mentradisikan Pilkada sebagai sarana perang gagasan dan perang program sehingga publik mampu memilih pemimpinnya yang terbaik bukan bermodal tampang doang sehingga dapat berdampak positif bagi kemajuan produktivitas suatu wilayah dan berdampak bagi kemajuan negeri dalam balutan sistem demokrasi yang modern dan berperadaban.
JADILAH PEMILIH YANG RASIONAL DALAM PILKADA ,JANGAN MELAKUKAN PEMBUSUKAN DEMOKRASI DI NEGARA PANCASILA
# SalamPencerahan
Salam hormat kami dan dipublikasikan oleh : CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT (CS REFORM )
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.