Menjaga Nyala Api Ksatria Karo: Dari Kejurnas Karate Full — Sorasirulo
← Beranda

Menjaga Nyala Api Ksatria Karo: Dari Kejurnas Karate Full

Belpa Tarigan (berdiri) ketika mensungkurkan lawanya ke kanvas.[/caption] Ita Apulina Tarigan (Surabaya)* Lenmarc Surabaya menjadi saksi bagaimana 102 karate…

Tubuh lawannya terlihat lebih tinggi. Dada mereka tegak, tangan di depan dada. Karateka lainnya mulai berteriak menyemangati. Pertandingan Natal tidak mudah, lawannya tangguh dan juga pantang menyerah. Natal terus menyerang sampai keduanya terlihat kehabisan tenaga, Natal unggul karena menjaga semangatnya dan terus menyerang dengan sisa tenaga. Bantal merah dilempar wasit ke arena. Wasit mengangangkat bendera untuk kemenangan Natal Prima.

Pelatih Jenda Kuidah yang sejak awal berlutut di samping arena menyambut Natal turun dari panggung pertarungan. Dibawa ke kursi dan diperiksa kondisinya. Dengan lembut Jenda Kuidah memberikan pandangannya tentang jalannya pertandingan. Kata-katanya terus menyemangati.

Satu persatu karateka Karo dipanggil ke arena. Jeprianto Ginting dan Aditya Sagita di kelas ringan menang mudah dari lawannya. Demikian juga Belpa Tarigan di kelas menengah 61-70 kg menang telak. Wajah kecewa Janpitra Sembiring dan Pernando Depari terlihat ketika mereka harus menelan kekalahan di kelas junior putra 60 kg ke bawah. Jenda Kuidah tidak tinggal diam. Semua karateka dia beri kekuatan dengan kata-kata lembut dan analisa jalannya pertandingan.

Pertandingan menegangkanpun tiba. Aditya harus berhadapan dengan juara kelas ringan tahun lalu. Semburat optimis terlihat di wajahnya.

"Doakan ya, Kak," katanya kepada Sora Sirulo sambil mengepalkan kedua tangannya.

Pertandingan dimulai. Kedua ksatria sudah saling kenal, mereka bermain cepat dan gesit. Aditya aggresif, lawannya tak kalah garang. Apa daya, pertarungan dimenangkan oleh lawannya. Guman kecewa terdengar diantara penonton. Pelatih Jenda Kuidah sedikit tidak percaya dengan penilaian wasit. Aditya tertunduk, mukanya merah.