Kolom Bastanta P. Sembiring: Penulisan Kata-kata Asing Dalam Aksara — Sorasirulo
← Beranda

Kolom Bastanta P. Sembiring: Penulisan Kata-kata Asing Dalam Aksara

Setiap penulis aksara Karo (tentunya aksara daerah lainnya juga) masing-masing memilik teknik, taktik, dan gaya tersendiri. Inilah kemudian yang membuat lite…

Zombi --> Jombi Zaman --> Jaman Fitra --> Pitra Syahdan --> Sahdan Ruth --> Rut Sutta --> Suta David --> Daud Dll.

Seperti halnya proses adaptasi dalam bahasa/ aksara Jepang yang sedikit pernah penulis pelajari, Smith --> Sumitsu Deutsch --> Doitsu (Jerman) Dll

Proses adaptasi ini dilakukan agar kata-kata dari bahasa asing menjadi sesuai dengan penuturan lokal. Hubungannya dengan penulisan aksara seperti misalkan aksara Karo yakni, agar kata-kata itu dapat ditulis dalam aksara Karo, sepert contoh, “fitra”. Oleh karena dalam aksara Karo tidak ditemuan huruf (font) “f”, maka kata ‘fitra’ kemudian diadaptasikan mendaji ‘pitra’. Bagaimana pula dengan kata, ‘example ’ atau ‘zweckgerecht ’?

Ya, cukup kita terjemahkan ke dalam bahasa Karo dan kemudian artinya kita tuliskan dalam aksara Karo (exampele : contoh ; zweckgerecht : seh kel pentingna).

Nah, yang kemudian menjadi dilema bagi banyak penulis awal (pelajar) aksara Karo yakni, kata-kata yang tidak selamanya dapat diterjemahkan, misalkan, nama orang, nama negara, judul lagu kebangsaan, istilah-istilah (dalam profesi dan keilmuan), dsb.

Memang, selama ini dalam penulisan aksara Karo belum sampai kepada pebahasan demikian, oleh karena fungsi penlisan aksara Karo masih sebatas surat-menyurat, menuliskan mangmang/tabas (mantera), tambar-tambar (kitab pengobatan), nyanyian, dsb dan juga masih mengunakn bahasa Karo. Sehingga penulis aksara Karo jarang bersentuhan dengan kata-kata asing (kecuali Arab dan India) hususnya dari lagi dari Eropa .

Misalkan saya kutip satu kasus penulisan Lagu Kebagsaan Polandia : "Mazurek Dąbrowskiego", karya Józaf Wybicki. Bait pertamanya "Jeszcze Polska nie zginęła ." Maka hal yang paling bijak yang dapat kita lakukan adalah tetap menuliskannya seperti aslinya.

Sebagai bahan perbandingan dapat kita lihat di film-film Jepang, Cina, Korea, Thailand, ataupun Arab. Di bagian akhir yang menginformasikan semua yang terlibat dalam produksi, tidak jarang kia temukan kata-kata atau nama-nama yang tetap ditulis Latin.