← Beranda Budaya & Adat · Kolom · Sab, 10 Nov · 5 mnt baca
Kolom Acha Wahyudi: Mendadak Bohemian Berbekal penasaran hasil woro-woro mb Ventura Elisawati dan beberapa teman yang sudah nonton duluan, walau belakangan ini sibuuuk pake bingitz.. though... ac…
Suara mas Didi di seberang sana menyahut rada kesel: "Sepertinya skenario terulang kembali deh! Engga usah basa basi, maksud kamu, lagi-lagi aku harus jadi tumbal, kan, ya? Nonton Doraemon nemenin krucil, sedangkan kamu dan Khanza enak-enakan nonton Bohemian Rapshody?"
"Hiks, yaa. Habis gimana, doonk? Lagian, kamu kan ga tahu juga beda lagu-lagu Queen dengan lagu A Rafik kan, ya, Hon. Aku jamin kamu pasti akan menikmati lagu "Baling-baling Bambu" Doraemon. Hihihi...."
Buru-buru beli tiket via XXI Online. Dilalahe karena mata blur akibat lagi-lagi kurang tidur selama berminggu-minggu belakangan. Eyke salah beli tiket film. Maksud hati mau ambil jadwal nonton terakhir di Pukul 21.30, ternyata yang aku beli tiket untuk Pukul 19.30. Yaaa hangus, deh. Terpaksa beli tiket ulang!
Jadi, ini pelajaran, ya, gaes. Untuk yang sudah masuk usia periode keemasan macam aku, jangan sungkan-sungkan atau gengsi seperti aku untuk pakai kacamata plus kalau mau beli tiket online!!!! Hahaha...
Anyway, back to this Queen movie. Mas Didi itu salah besar kalau dia pikir aku akan seneng-seneng nonton film Bohemian Rapshody. Yang ada aku lebih banyak sedih. Mewek ga jelas. Ga bawa tissue. Habis deh jaket untuk ngelapin ingus. Eyykhhh... Khanza sampai ngelus-ngelus punggungku terutama di scene-scene terakhir atau saat mencerna lirik-lirik lagunya. Apalagi lirik lagu Love of My Life yang Freddie khusus tulis dan persembahkan untuk Mary Austin, cinta sejatinya.
Dunia menghargai pencapaian Queen dalam bermusik, namun aku ikut tenggelam dalam kesedihan dan kenestapaan seorang Freddie Mercury. Salah seorang manusia jenius di bidang musik dan entertainment yang berhasil menyemarakkan dunia panggung hiburan nan gemerlap dengan gaya panggungnya yang kontroversial sedikit 'njelehi dan lagu-lagu masterpiece everlasting'nya..."Killer Queen, We are the Champions, Who wants to live forever dst....
Betapa seorang yang dilahirkan dalam fisik tubuh seorang lelaki dalam sebuah keluarga Parsi penganut Zoroaster, agama kuno bangsa Persia yang begitu konservatif. Mirip dengan apa yang ada dalam ajaran 3 agama Samawi. Agama monoteisme pertama ini pun beranggapan bahwa para biseksual tak lebih dari penyimpang perilaku sex, berdosa dan nista. Di beberapa ketentuan agama tertentu, pelakunya harus dihukum, bahkan dimusnahkan!
Sama sekali tidak memberikan ruang atas kemungkinan lain, seperti terjadinya kesalahan dalam proses pembelahan kromosom sex dalam DNA, yang sejatinya telah terbukti ada dalam perilaku seksual aneka species mahluk hidup, esuai hasil penelitian yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Freddie adalah salah satu korban dari gagalnya agama dan budaya dalam mengemban missi mulia utamanya, yaitu untuk membahagiakan manusia.
Ketika keluarga dan masyarakat terdekat tidak dapat menerima kondisinya, Freddie yang seharusnya dapat bahagia dengan segala pencapaiannya, beralih mencari kebahagiaan fatamorgana dari pil dan heroin. Juga kehidupan bebas dengan orang-orang yang tidak begitu dikenalnya, yang akhirnya membuat dia harus berhadapan dengan AIDS.
Bila kita cermati semua yang dirasakannya, Freddie menuangkannya dalam lirik Bohemian Rapshody yang penuh misteri. Namun, ada kata-kata lugas menyayat hati, seperti misalnya dia berharap tidak pernah dilahirkan dan dia tidak lagi punya banyak waktu atau penyebutan nama Galileo berulang-ulang, seorang ilmuwan penentang teori Aristoteles yang teorinya begitu diyakini oleh gereja ketika itu sebagai kebenaran absolut.
Lebih beruntung dari Giordano Bruno, seorang pendeta yang terus belajar dan mencari, dianggap melecehkan ajaran agama, kemudian dibakar hidup-hidup. Galileo Galilei dihukum seumur hidup karena penguasa dan masyarakat masih terjebak dalam teori Geosentris dan tidak dapat membiarkan seorang ilmuwan mematahkan apa yang selama ini mereka yakini yang ujungnya akan mengguncang iman.
Lagu itu juga berkisah tentang ritual pengorbanan anak adalah suatu hal biasa. Apalagi anak yang dianggap tidak mampu menjadi "manusia normal".
Kritiknya mengenai masyarakat yang tak sudi menerima ilmu pengetahuan yang terus berkembang ekspansif dan tidak dapat dibendung. Masyarakat yang acuh, tidak dapat move on walau bukti telah terpampang di hadapan mata. Bahkan ada di buku-buku dan literatur ilmiah yang mereka baca di bangku sekolah.
Mengapa manusia, masyarakat, para orangtua yang seharusnya mengasihi anaknya apa adanya, bisa menerima seorang anak yang menderita Down Syndrome, Autism, Kelainan Jantung dan penyakit-penyakit bawaan lainnya, namun jarang sekali bisa menerima kondisi anaknya yang menderita perbedaan orientasi seksual, yang berhubungan dengan adanya perubahan minor kromosom sex saat membelah diri. Tidak berusaha melengkapi literasi. Melainkan terus meyakinkan diri mereka bahwa anak tersebut, manusia yang berbeda itu, adalah sebuah kesalahan!
Why you people! Human failed to understand what humanity is. Sebegitu tinggi kah tempat cinta bersemayam, tak tergapaikah? Sehingga manusia tidak sanggup meraihnya bahkan hanya untuk sekedar mengasihi?
Rest in Peace Freddie.... Sure...You are a legend... you are immortal!
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.