← Beranda Budaya · Ita apulina tarigan · Jum, 27 Jul · 2 mnt baca
Kolom Ita Apulina Tarigan: Bisikan Barusan saya ke toko buku, niatnya mau beli refill ballpoint. Tidak afdol rasanya ke toko buku tanpa berkeliling. Deretan buka Pramudya dengan cover cemerlan…
Di lorong lebih kecil, yang khusus memajang buku-buku satrawan Indonesia, saya lama berhenti. Scanning judul buku dan nama pengarangnya. Masih sama seperti 2 minggu lalu. Saya berhenti di depan Multatuli.
Mendadak berkaca-kaca. Dua hari lalu, supir yang biasa mengantar jemput ke kantor bertanya:" Bu, Multatuli itu siapa? Tadi malam anak saya di desa menelpon. Dia cerita pelajarannya tentang Multatuli. Saya merasa pernah dengar, tapi lupa."
Saya tertawa mengejek ingatannya: "Kamu lupa ya, pernah mengantar saya ke Lebak beberapa bulan lalu. Kita menghadiri peresmian Museum Multatuli, tapi kamu tidak masuk, malah nongkrong di parkiran."
Siapa dia Bu? Kenapa masuk buku sekolah? Lalu, mulut saya pun berbusa-busa menerangkan Max Havelaar, Saijah dan Adinda, para bangsawan dan bupati yang korup.
"Wah, koq bisa ya wong Londo membela orang kita?" Katanya.
Saya berjanji akan beri dia buku Multatuli untuk anaknya.
Di rumah, saya berpikir, rugi berikan buku ini padanya. Ini buku keren, cetakan original. Kalau beli ya mahal. Begitulah saya berhitung sambil mengingat sebuah kios buku bekas di Kota Leiden (Belanda) dimana saya membeli buku itu beberapa bulan lalu.
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.