Kolom Muhammad Nurdin: Anies Baswedan, Sang Boneka — Sorasirulo
← Beranda

Kolom Muhammad Nurdin: Anies Baswedan, Sang Boneka

Diajukannya nama Muhammad Taufik untuk menggantikan posisi Sandiaga Uno sebagai Wakil Gubernur sontak membuat khalayak bertanya-tanya. Kenapa harus Taufik? B…

Kolom Muhammad Nurdin: Anies Baswedan, Sang Boneka

Yang mengherankan, ke mana sang gubernur? Anies Baswedan seperti boneka partai yang nurut aja apa keputusan partai. Dulu, saat Ahok naik sebagai gubernur, ia sendiri yang memilih Djarot sebagai pendampingnya. Ahok tahu, Djarot punya rekam jejak yang bagus dalam memimpin.

Seharusnya, sebagai gubernur, Anies lebih tahu dan paham siapa yang layak jadi pendampingnya. Sehingga, keputusan ada di tangan Anies. Tapi, Anies paham, ia tak lebih dari alternatif pemimpin yang lebih baik, ketimbang seorang kafir yang telah "menista" Quran. Anies paham, jika mengandalkan kata-kata manisnya saja, takkan menang melawan Ahok yang prestasinya bejibun. Anies paham, kalau bukan karena duit Sandi dan mesin partai yang masuk sampai ke mesjid-mesjid, sampai pakai politik ayat dan mayat, ia pasti kalah.

Hasilnya, nilai tawar Anies sebagai gubernur tak lebih dari boneka di hadapan partai pendukungnya.

Coba ingat-ingat lagi. Saat Anies tiba-tiba mengganti Kepala Bappeda, Tuty Kusumawati, hanya karena ia orang kepercayaan Ahok yang paling gak bisa disogok. Padahal, kita ketahui di bawah kepemimpinan Tuty, Bappeda DKI pernah mendapatkan 4 penghargaan dari Bappenas.

Banyak pejabat Pemprov DKI yang tiba-tiba diberhentikan oleh Anies. Tanpa pemberitahuan, tanpa pemeriksaan. Bahkan hanya dengan telpon bahwa besok akan ada serah terima.

Walkot Jaksel, Tri Kurnadi sangat menyayangkan keputusan sepihak gubernur Anies. Padahal, rekam jejak Tri saat memimpin Jaksel telah menorehkan banyak sekali prestasi.

Mulai dari kesuksesan pembebasan lahan untuk MRT, kesuksesan menormalisasi Kali Ciliwung di daerah Bukit Duri dan Rawa Sari. Belum lagi tahun 2017 Jaksel menyabet piala Kalpataru. Dan, sekian banyak prestasi-prestasi lainnya.

Kasus pemberhentian secara sepihak ini merupakan hal gegabah yang pernah dilakukan Anies sebagai Gubernur DKI. Sebab, ini sudah menabrak PP No. 53 tahun 2010 tentang PNS. Harus ada pemanggilan dan pemeriksaan dulu sebelum diberhentikan.

Saya paham. Ini terpaksa dilakukan oleh Anies. Karena ia yang paling berkuasa untuk menyingkirkan orang-orang Ahok di pemerintahan. Anies paham bahwa kebijakannya ini akan menuai pro-kontra. Bahkan pahit-pahitnya, posisinya sebagai gubernur akan terus diserang, baik secara politik maupun secara konstitusional.

Ya, begitulah nasib pemimpin yang terpenjara karena jabatannya sendiri. Ia tak bisa menjadi dirinya sendiri.