← Beranda Berita terkini · Kolom · Nisa alwis · Sel, 23 Okt · 2 mnt baca
Kolom Nisa Alwis: Sakral? (antara Teks Dan Berasumsi boleh. Yang tidak boleh itu membangunnya LEPAS dari konteks. Ketika tersiar kabar kader Banser membakar 'kalimat tauhid', kita kalem saja. Menelisi…
Jika bukan, anda tidak bagian dari HTI, tapi emosi dan menganggap anggota Banser tadi melakukan penodaan pada 'kalimat tauhid', di situlah terjadi DISTORSI. Anda sudah salah paham. Terburu-buru berreaksi dengan mengabaikan KONTEKS.
Anda hanya tertarik menyoroti teks yang nampak saja, lalu tersinggung dan marah. Menganggap sablonan di kain itu sakral, sambil tutup mata dari kenyataan bahwa: 'kalimat tauhid' di sana lebih bermakna sebagai BENDERA.
Kerajaan Saudi Arabia, benderanya juga ada 'kalimat tauhid'nya. Pada Piala Dunia, simbol itu tercetak di sisi BOLA. Apakah anda juga merasa ternoda ketika bola itu tidak dipajang di bufet kaca, tetapi harus ditendang dan digelandang di padang rumput dari kaki ke kaki? Begitupun, ketika 'kalimat tauhid' ditempel di STICKER kaca mobil. Apakah membuat anda merasa perlu berwudu ketika akan masuk mobil itu?
Semua hanyalah gimmick pada akhirnya. Yang sakral, suci, dan keramat bukan di sana tempatnya. Tidak di kain, bukan di kalung, di kaos, di sticker, jaket dan sebagainya. Hakikat adalah inti, tempatnya di relung hati. Yang duplikat semua hanya kemasan, boleh diraba dan diterawang, tapi tak perlu diributkan. # BersamaBanser # UntukNKRI
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.