Rakut Sitelu di Kota Besar: Tarigan Gersang Jabodetabek Gelar Gendang Mburo Ate Tedeh — Sorasirulo
← Beranda

Rakut Sitelu di Kota Besar: Tarigan Gersang Jabodetabek Gelar Gendang Mburo Ate Tedeh

Pada 19 April 2026, Persadaan Tarigan Gersang Ras Anak Beru Bagepe Anak Beru Menteri Se-Jabodetabek menggelar Gendang Mburo Ate Tedeh di Bekasi — membuktikan bahwa arsitektur sosial Karo tidak ikut tertinggal ketika anggotanya bermigrasi ke kota.

Pada Minggu pagi 19 April 2026, di Gedung Graha Girsang Lestari, Bekasi, Pendeta Ratna Sriany Br Meliala membuka ibadah. Bukan sebagai formalitas pembuka — melainkan sebagai titik masuk yang dipilih dengan sadar menuju Gendang Mburo Ate Tedeh 2026. Yang menggelar acara ini adalah Persadaan Tarigan Gersang Ras Anak Beru Bagepe Anak Beru Menteri Se-Jabodetabek. Di balik nama panjang itu tersembunyi sesuatu yang jarang diperhatikan: seluruh arsitektur sosial Karo masih berdiri tegak di tanah rantau. Merga, anak beru, bahkan anak beru menteri — posisi ketiga dalam lapis hubungan rakut sitelu — semuanya tercantum dalam nama resmi organisasi ini. Ketika anggota merga Tarigan Gersang berpindah ke kawasan Jabodetabek, mereka tidak menanggalkan posisi adat mereka seperti menanggalkan sarung. Tema yang dipilih pun tidak sembarangan: *Ersada, Sikelengen, Ermediate Gelah Kita Ernala*. Dalam kalimat itu ada kerinduan yang belum sepenuhnya terpuaskan oleh reuni biasa — kerinduan pada tatanan, bukan hanya pada wajah-wajah yang lama tak berjumpa. Di Taneh Karo, kalimbubu, anak beru, dan sembuyak memiliki peran yang sangat konkret dalam setiap upacara: siapa yang membawa sirih, siapa yang memasak, siapa yang duduk di mana. Di kawasan Jabodetabek, peran-peran itu harus dinegosiasikan ulang, dikompromikan dengan ritme kota yang tidak mengenal runggun. Gendang seperti ini adalah arena negosiasi itu. Selama beberapa dekade saya mengikuti pola ini di berbagai komunitas diaspora Karo: persadaan bukan sekadar klub sosial. Ia adalah mekanisme transmisi yang memastikan generasi berikutnya mengetahui posisi mereka dalam jaringan kekerabatan — kepada siapa mereka menjadi anak beru, nama mana yang harus dijaga dengan hormat. *Mburo ate tedeh* dalam bahasa Karo: membebaskan rasa rindu dari dalam hati. Pertanyaan yang tidak pernah diajukan di acara seperti ini adalah: rindu kepada kampung di Taneh Karo, atau kepada tatanan yang memberi nama dan posisi kepada setiap orang yang berdiri di sana?